Namanya, Stefano Chiesa Suryanto, murid kelas 5B
di SD Santa Theresia, Jakarta. Stefano duduk tenang di ruang Kepala SD Santa Theresia, didampingi ayahnya, Ary Suryanto,
dan ibunya, Ny Widya. Tubuhnya seakan tenggelam di antara jejeran piala keemasan yang ditata di sebuah meja kecil di belakang dia. Piala-piala itu ternyata baru sebagian saja dari sejumlah penghargaan yang diperolehnya. Semua penghargaan diperoleh Stefano dalam kompetisi berbau angka, matematika.
Selain itu, Stefano menjadi juara satu Sanmar Creative Math Competition 2006, dan juara pertama Kompetisi
matematika Nalaria Realistik Se-Indonesia Ke-3 tahun 2007. Kejuaraan-kejuaraan seperti itu selalu menjadi tantangan baru baginya. Pencinta matematika Kalau anak-anak lain seusianya merasa ”seram” ketika berhadapan
dengan matematika, Stefano justru sebaliknya.
Ketika diminta memilih antara bermain game komputer yang biasanya disenangi
anak seusianya atau mengerjakan
soal matematika, lagi-lagi
dia menjawab tanpa ragu, ”Belajar matematika, dong....” Bagi Stefano, bidang yang berurusan dengan angka itu tidak terlalu sulit. Jika menemui kendala dalam mengerjakan soal matematika, dia pantang menyerah dan tidak mau meninggalkannya begitu saja. ”(Kalau tak bisa soal matematika) harus dicoba terus, kalau (saya) belum bisa juga, tanya ke guru atau kakak,” ujarnya. Sang kakak, Bernando Viali Suryanto, juga jagoan matematika dan termasuk anggota tim Olimpiade Matematika Indonesia pertama tahun 2003.
Tidak sekadar suka matematika dan berotak encer dengan IQ 145, prestasi Stefano sesunguhnya merupakan buah kerja keras. Setiap kali akan bertanding, jauh-jauh hari dia berlatih mengerjakan soal-soal di rumah. Penggemar matematika eksplorasi dan teori ini juga kurang suka menonton televisi. Sejumlah guru khusus yang telah terbiasa melatih peserta olimpiade, didatangkan orangtuanya untuk membantu Stefano. Les dengan guru privat itu selalu dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Ada pula guru komputer, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin yang rajin mendampingi bocah itu. Stefano terdaftar pula sebagai peserta les Kumon dan Sakamoto. Stefano memang super-sibuk. Semula Ny Widya khawatir melihat kesibukan putra kecilnya itu. ”Terkadang saya kasihan. Kalau jadi anak lomba sepertinya waktu bermain dia tidak ada, karena harus berlatih, les… dan les lagi.
Setiap akhir pekan, Stefano menonton film- film kartun Jepang kegemarannya, atau membaca buku cerita tentang tokoh-tokoh dunia seperti Henry Ford, Isaac Newton, dan Thomas A Edison. ”Yang (saya) pelajari itu kisah suksesnya. Mereka berhasil karena bekerja keras,” katanya. Berharganya waktu Peran kedua orangtua dalam mendidik Stefano hingga mencapai prestasi itu sangat besar. Sejak kecil, orangtuanya menanamkan nilai kerja keras dan disiplin kepada anak- anaknya.
Moto itu saya tulis dan tempel di kamar anak. Orang hidup harus rajin, karena hidup itu perjuangan untuk mencapai tujuan,” ujar sang ibu yang gemar membaca itu. Pada usianya yang belia, Stefano sudah teguh bercita-cita menjadi pemrogram komputer. Ini bidang yang membutuhkan kekuatan logika dan dasar matematika. Dia menikmati berkreasi membuat program komputer. Sudah ada lima belas program, seperti program menampilkan data dan berhitung yang berhasil dibuatnya. ”Bikin program itu seru dan tidak membosankan,” komentarnya. Dia ingin mengikuti jejak Bill Gates, salah seorang terkaya di muka Bumi yang mendirikan perusahaan Microsoft. Tentu saja, sebelum cita-cita besarnya itu tercapai, Stefano masih akan terus bersemangat mengharumkan nama bangsa di berbagai kompetisi olimpiade matematika.
Ringkasan lain tentang Stefano, Langganan Juara Matematika