Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Kemitraan Indonesia dan Jepang

Kemitraan Indonesia dan Jepang

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Faisal Basri
ª
 
Indonesia. Namun, belakangan ini tingkat keeratan hubungan ekonomi Indonesia-Jepang merosot tajam. Sebagai tujuan ekspor Indonesia, peranan Jepang menyusut, dari sekitar sepertiga pada awal dekade 1990-an menjadi sekitar seperlima saja pada tahun lalu. Kecenderungan yang sama terjadi pula untuk impor. Jika pada paruh pertama dekade 1990-an impor dari Jepang sekitar seperempat dari impor total Indonesia, dewasa ini tinggal sekitar 12 persen.
Pesaing baru Indonesia yang makin banyak dibidik oleh investor Jepang adalah India, Vietnam, Rusia, dan Brasil. Sementara itu, dalam satu dekade terakhir China dan Thailand selalu menjadi primadona di Asia bagi perusahaan Jepang dalam berinvestasi di luar negeri. Kepentingan Indonesia Pengalaman banyak negara, termasuk Indonesia pada masa lalu, menunjukkan peranan investasi asing sangat penting untuk meningkatkan ekspor. Kajian terbaru Bank Dunia (2007) menunjukkan betapa perkembangan ekspor yang pesat dari Asia Timur sangat ditopang oleh keberadaan penanaman modal asing.
Ini mengindikasikan Indonesia tersingkir dari jaringan produksi global yang dirajut perusahaan multinasional, termasuk yang dari Jepang. Salah satu komponen Persetujuan Kemitraan Ekonomi (EPA) Jepang-Indonesia ialah komitmen untuk memajukan investasi Jepang di Indonesia. Untuk itu, kedua negara sepakat untuk memperbaiki keyakinan usaha (improvement of business confidence) dan menghilangkan segala hambatan investasi. Hal itu di antaranya dengan memperlancar impor bahan baku yang dibutuhkan pabrik-pabrik Jepang di Indonesia, kemudahan dan harmonisasi prosedur kepabeanan, serta kemudahan masuknya tenaga-tenaga Jepang.
Selain itu, Jepang meminta Indonesia untuk lebih menjamin pasokan energi dan sumber daya mineral. Jaminan bisa saja diberikan asalkan tidak mengganggu kepentingan pasokan energi dan sumber daya mineral bagi kebutuhan domestik kita. Sebagai imbalan atas penghapusan/penurunan tarif bea masuk lebih dari 90 persen pos tarif yang mencapai 99 persen dari nilai ekspor Indonesia ke Jepang, pihak Jepang tidak menuntut kesetaraan. Kompensasi segera yang diminta Jepang adalah pembebasan bea masuk atas impor bahan baku yang dibutuhkan pabrik-pabrik Jepang di Indonesia yang belum mampu diproduksi di sini.
Namun, jika becermin pada pengalaman negara tetangga yang telah lebih dulu mencanangkan EPA dengan Jepang (Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam), kita tak perlu khawatir berlebihan. Hasil nyata yang positif telah dinikmati negara-negara tetangga. Kita bisa belajar banyak dari mereka, termasuk bagaimana meredam dampak negatif yang tak dikehendaki. Semakin banyak negara yang berpartisipasi dalam EPA, diharapkan menimbulkan kesadaran baru dan menambah dorongan bagi negara sekawasan untuk mewujudkan integrasi ekonomi di kawasan Asia Timur yang dipandang lebih realistis ketimbang kerja sama dalam kerangka APEC.
Diterbitkan di: 03 April, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.