Andi (25), seorang perajin
kompor minyak, menyimpan uang Rp 15.000 yang baru diterimanya dari seorang ibu. Uang itu terasa besar sekali karena sudah hampir seminggu tidak ada orang datang minta kompornya diperbaiki. Sejak 50 tahun lalu kompor minyak buatan Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, sudah terkenal. Kompor yang terbuat dari drum bekas itu terkenal awet
dan menyala biru. Pembelinya tidak hanya warga sekitar Cawang, tetapi
juga datang dari seluruh Nusantara.
Bahkan, Munadi N Hasan (49) mengaku pernah mengekspor kompor buatannya ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Afrika. Jika dulu pedagang tidak sampai tujuh orang, kini jumlahnya mencapai 15 orang. Merekalah yang
membuat kawasan di Jalan Dewi Sartika itu dikenal sebagai Cawang Kompor. Selain menjual kompor, mereka juga menjual oven, dandang, penggorengan, dan alat masak lainnya yang terbuat dari besi, alumunium, dan kaleng.
Munadi mengaku, dari 2.000 kompor yang biasa dia jual per bulan, pada bulan Maret lalu langsung drop tidak sampai 100 kompor, sementara Usman mengaku masih mempunyai 700 kompor
lagi yang belum selesai dirangkai. Kompor itu agaknya akan menjadi besi tua yang berkarat karena Usman belum punya gambaran akan diapakan kompor-kompor itu.
seorang perajin yang belum dirumahkan oleh Usman, mengaku menjadi perajin kompor sejak berusia 10 tahun. Selain membuat kompor, dia juga memperbaiki kompor-kompor yang rusak atau menyala merah. ”Setiap hari pasti ada yang memperbaiki kompor di sini. Lumayan hasilnya. Saya bisa mendapatkan Rp 300.000 per hari. Uang itu saya bagi dua dengan Pak Usman. Sekarang tidak ada lagi yang memperbaiki kompor. Minggu ini saja baru satu ibu tadi. Uang Rp 15.000 tadi harus saya setor separuh kepada Pak Usman,” kata Andi, yang mengaku akan pulang ke Cirebon jika benar-benar kompor minyak tidak dibutuhkan warga kota Jakarta lagi.
Bukan berarti Munadi tidak terpukul, tetapi Munadi percaya masih banyak warga Jakarta yang memakai minyak
tanah walaupun harga minyak tanah mahal. ”Lihat saja nanti Lebaran. Orang masih merasa mahal dan sayang kalau membuat ketupat dengan menggunakan gas. Mereka pasti mencari kompor minyak lagi,” kata Munadi optimistis. Namun kini dia mulai membuat kompor gas. Selain menjual kompor gas satu tungku, dia juga mulai membuat kepala kompor mawar yang biasa digunakan oleh pedagang makanan. Kompor yang bentuk apinya seperti bunga mawar ini biasanya memakai minyak tanah dengan dipompa. Dengan gas, pedagang tidak perlu lagi memakai pompa karena gas telah mempunyai tekanan. ”Hanya kepala kompor gas ini masih uji coba. Bahan bakunya juga mahal sekali, terutama kuningannya,” kata Munadi yang menjual kompor mawar gas ini seharga Rp 250.000.
Akankah kompor-kompor gas buatan Cawang sama bagusnya dengan kompor minyak tanah? Jika pemerintah mampu menghilangkan kompor minyak tanah, tentu pemerintah bisa juga membuat kompor gas buatan Cawang ini berjaya kembali. Dengan bimbingan, pelatihan, dan kredit lunak tentunya.
Ringkasan lain tentang Ketika Minyak Tanah Tidak Lagi Disubsidi