Paling sedikit menghidupi keluarga, sebisa mungkin sebanyak-banyaknya orang.” Putra pasangan Raden Sahid Djogosentono
dan Sadinah ini
lahir dengan nama Sugito
di Desa Jetis, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ketika
ia lahir, sang ayah yang pernah
hidup berkecukupan sebagai lurah dan bangsawan jatuh miskin.Tak mudah bagi generasi muda untuk memahami bagaimana kecintaan pada Tanah Air, orangtua, dan kampung halaman diwujudkan dalam kiprah bisnis. Bagi Sukamdani Sahid Gitosardjono yang pernah mengangkat senjata sebagai tentara pelajar untuk mempertahankan kemerdekaan, keuletan berbisnis adalah bentuk lain perjuangan. Urip iku nguripi, hidup itu menghidupi. Itulah salah satu falsafah Jawa yang mendorong semangat Sukamdani berwirausaha.Paling sedikit menghidupi keluarga, sebisa mungkin sebanyak-banyaknya orang.” Putra pasangan Raden Sahid Djogosentono dan Sadinah ini lahir dengan nama Sugito di Desa Jetis, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ketika ia lahir, sang ayah yang pernah hidup berkecukupan sebagai lurah dan bangsawan jatuh miskin.
Setelah menamatkan Sekolah Rakyat, Sukamdani bekerja sebagai pembantu juru tulis di kantor kaonderan (kecamatan) Sukoharjo pada pagi hari dan melanjutkan sekolah menengah pertama pada sorenya. Ia sudah
menjadi juru tulis kepala di kantor kecamatan saat menamatkan Sekolah Menengah Ekonomi Atas di kota Solo. Pada Oktober 1952 Sukamdani berangkat ke Jakarta hanya dengan koper dan sepeda, setelah dinyatakan lolos tes menjadi pegawai di Kementerian Dalam Negeri. Namun, baru dua bulan menjadi pegawai negeri, ia mengundurkan diri. ”Pada masa itu, pegawai negeri dianggap jauh lebih tinggi derajatnya daripada pedagang. Istilah wirausaha belum ada zaman itu,” ujarnya. Hubungan dagang ini dimungkinkan setelah Kadin dan organisasi mitranya di China menandatangani nota kesepahaman di Singapura, Juli 1985. Kiprahnya yang luas di sektor bisnis dan organisasi membuat Sukamdani menggaet kepercayaan pribadi penguasa Orde Baru. Dari sekadar menjadi ketua panitia penyelenggara pernikahan anggota
keluarga Cendana dan membangun makam keluarga, ia juga ditunjuk memimpin pembangunan Pasar Klewer Solo dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dia menegaskan, kepercayaan keluarga Cendana tak berarti kesempatan baginya mengguritakan bisnis. ”Silakan ditunjukkan, mana proyek yang saya dapat dan mendatangkan keuntungan pribadi karena semua kedekatan itu,” ujarnya.
Sukamdani sadar, akan lebih menguntungkan secara finansial jika modal membangun universitas dimanfaatkan untuk membangun hotel. ”Mengurus pondok pesantren, misalnya, juga jauh lebih rumit daripada mengurus hotel dan tamu,” ujarnya. Divisi Pendidikan, Kebudayaan, dan Keagamaan serta Divisi Kesehatan, Sosial, dan Kemasyarakatan pada Sahid Group adalah wujud penghormatan Sukamdani kepada orangtua dan nilai yang mereka tanamkan. ”Juga karena hidup di dunia tidak selamanya. Kita perlu menabung di akhirat,” ujarnya.
Ringkasan lain tentang Sukamdani, Berbisnis Saja Tak Cukup