• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Indonesia Tak Siap Hadapi Krisis?

.

Indonesia Tak Siap Hadapi Krisis?

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Sri Adiningsih
Profesor Steve Hanke, guru besar ekonomi Universitas
Johns Hopkins, AS, menyatakan, Indonesia belum siap menghadapi
krisis
ekonomi.Juga dikatakan, rendahnya anggaran untuk infrastruktur
yang hanya 3 persen dari PDB (di bawah Indonesia zaman Orba atau negara
Asia Tenggara lainnya) dan rendahnya anggaran untuk SDM membuat
Indonesia tidak siap menghadapi krisis global.Tragis!
Sebagai bangsa yang kaya SDA, yang terletak di khatulistiwa, rasanya
sedih dan prihatin melihat perkembangan negeri ini. Kenaikan harga
komoditas primer yang seharusnya membuat bangsa ini mendapat rezeki
nomplok malahan menyengsarakan. Padahal, negara pengimpor produk-produk
primer ada yang tambah makmur.Semakin beratnya hidup masyarakat terefleksi dari
hasil berbagai jejak pendapat yang menunjukkan ketidakpuasan masyarakat
pada kinerja ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun.
Politik fiskal
Kemandekan pembangunan ekonomi dan ketidaksiapan Indonesia menghadapi
krisis membuat ekonomi Indonesia ada pada posisi berbahaya jika
pengelola ekonomi masih terus menjalankan kebijakannya selama ini.
Apalagi jika kebijakan fiskal lebih banyak dimensi politiknya daripada
mengatasi masalah ekonomi yang sedang dihadapi bangsa dan mengabaikan
pertimbangan rasional dari sisi ekonomi.
Apalagi dalam kondisi keuangan negara yang masih berat, kondisi fiskal
belum sustainable, pengelolaan fiskal yang tidak rasional akan
memperburuk kondisi ekonomi. Di mana alokasi anggaran yang berat pada subsidi
(padahal banyak yang tidak tepat sasaran) sehingga anggaran untuk
infrastruktur dan SDM yang penting untuk membangun ekonomi Indonesia ke
depan justru dikorbankan.
Juga karena subsidi yang membengkak membuat defisit APBN melesat, yang
akhirnya harus dibiayai dengan tambahan utang. Artinya, generasi
mendatang harus membiayai konsumsi generasi sekarang. Sungguh kasihan
anak cucu kita.
Jika pola itu masih akan berlangsung pada tahun-tahun mendatang, jelas
akan membuat ekonomi kita tidak maju, bahkan mengalami kemerosotan.
Padahal, jika anggaran yang disalurkan untuk subsidi tahun ini
digunakan membangun jalan bebas hambatan (kualitas jalan tol) bisa
mencapai 4.000 km, dalam dua tahun akan bisa dibangun 8.000 km.Apalagi bagi negara yang memiliki beban utang besar
seperti Indonesia, yang ekonominya masih ”terpuruk” (jumlah
pengangguran dan kemiskinan masih besar). Belum
lagi dana terbatas dari APBN yang seharusnya digunakan untuk membangun
agar ekonomi dapat bangkit malah dihamburkan untuk konsumsi, dalam
bentuk subsidi yang banyak salah sasaran. Padahal, nilainya bisa
mencapai 20 persen dari anggaran tahunan dan sebagian dibiayai dari
utang. Akankah ini dibiarkan terjadi?
Setahu saya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jiwa
perjuangan yang hebat.Apakah untuk dapat melihat itu semua dan membuat kita mengambil jalan yang benar harus mendengarkan saran dari luar?
Semoga bangsa Indonesia dapat melihat permasalahan ekonomi dengan
jernih sehingga dapat mengambil solusi dengan bijaksana. Apalagi
ancaman krisis dan resesi global tampaknya kian serius. Jangan sampai
kita harus mengalami krisis ekonomi hebat lagi karena ketidakmampuan
kita mengantisipasinya dengan baik.
Diterbitkan di: April 01, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.