• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Blokir Porno, David Vs Goliath?

.

Blokir Porno, David Vs Goliath?

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Donny BU
Konten pornografi memang bisa diblokir menggunakan berbagai peranti lunak, tetapi soal efektifitas itu lain soal.
Siapa
pun bisa mengunduh dan memasang berlapis peranti lunak yang
berfungsi memblok atau menyaring konten pornografi dari internet, baik
pada tingkat komputer personal (PC), server pada warnet, hingga
Internet Service Provider (ISP).Data tersebut juga menyebutkan, setidaknya setiap
detik ada 372 pengguna internet yang mengetikkan kata kunci tertentu di
situs pencari untuk mencari konten pornografi.
Khusus untuk perilaku pengguna internet di Indonesia, Google Trends
memaparkan bahwa meskipun jumlah pengguna internet masih terkonsentrasi
di Ibu Kota Jakarta, namun Jakarta hanya menduduki posisi ke-5 kota
dengan jumlah pencari konten dewasa dengan memasukkan kata kunci yang
sangat umum, yaitu ”seks”. Setelah Jakarta disusul Bandung.Apalagi jika harus memilah antara informasi ”seks” yang layak untuk
keperluan pendidikan, kesehatan, ilmu bercinta, ataupun sekadar sebagai
pemuas berahi belaka.
Bicara tentang ilmu bercinta, ketika penulis menggunakan ”kamasutra”
sebagai kata kunci pada Google Trends ternyata Indonesia berada pada
urutan ke-3 setelah Lituania dan India untuk kategori negara. Sementara
untuk kategori kota, Jakarta berada pada urutan ke-4 setelah Chennai,
Delhi, dan Mumbai yang semuanya di India.
Goliath
Industri pornografi bukanlah industri kacangan.Berbagai teknologi ini, menurut penelitian terpisah
oleh USA Today, Adult Video News dan Nielsen/NetRatings adalah baik
yang bersifat positif seperti video-audio streaming, layanan berbayar
video-on-demand, digital-rights management, peranti lunak geo-location,
konten tersegmentasi dan layanan konten nirkabel melalui ponsel. Adapun teknologi yang cenderung bersifat negatif, setidaknya bagi sebagian kalangan, adalah spam, iklan pop-ad, dan cookies.
Wajar jika kita berpikir bagaimana agar teknologi yang lawas dan biasa
saja, seperti peranti lunak pemblokir konten pornografi, dapat
berhadapan dengan produsen pornografi yang notabene para jawara
penghasil teknologi konten masa depan.
Wajar jika kita berpikir bagaimana agar teknologi yang lawas dan biasa
saja, seperti peranti lunak pemblokir konten pornografi, dapat
berhadapan dengan produsen pornografi yang notabene para jawara
penghasil teknologi konten masa depan.
Ini ibarat David melawan Goliath!
Privasi
Berdasarkan sejumlah jajak dan studi yang dilakukan di Indonesia,
fasilitas e-mail adalah hal yang paling utama digunakan oleh konsumen
internet. Sayangnya, spam (e-mail sampah) menghantui aktivitas e-mail
siapa pun di mana pun.
Penelitian yang dilakukan oleh Barracuda Networks mengatakan bahwa
sepanjang tahun 2007, dari total lalu lintas e-mail yang tercatat, 95
persen adalah spam. Penelitian yang dilakukan oleh Barracuda Networks
mengatakan bahwa sepanjang tahun 2007, dari total lalu lintas e-mail
yang tercatat, 95 persen adalah spam. Kemudian menurut Symantec,
untuk data per Februari 2008, 6 persen dari seluruh e-mail spam masuk
dalam kategori untuk ”dewasa” di atas 18 tahun.
Ini perlu menjadi pertimbangan pula bagaimana menyaring konten
pornografi, yang sengaja ataupun tidak, masuk langsung ke mailbox,
termasuk ke mailbox anak-anak dan para remaja.
Pornografi lewat e-mail lebih sulit pengidentifikasiannya (termasuk
pemblokirannya) karena sifatnya yang tidak terbuka seperti layaknya
mengunjungi sebuah situs, lebih privasi karena terantar langsung ke
masing-masing individu, dan sifatnya ada push-services.
Diterbitkan di: April 01, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.