Jalan-jalan
ke Pulau Penyengat
Perginya pada hari Jumat
Apa gunanya pemimpin hebat
Kalau tidak dekat dengan rakyat
(Pantun politik Suryatati A Manan)
Datanglah sekali-kali ke Tanjungpinang, daerah yang kini disebut-sebut sebagai Negeri Pantun.Bahkan, juga
di kawasan-kawasan lain di Nusantara, dengan bahasa daerah
masing-masing.
Namun, yang paling tampak bergairah merevitalisasi tradisi
berpantun saat ini adalah masyarakat Tanjungpinang. Tradisi berpantun tidak hanya
marak kembali secara alami, tapi ada upaya-upaya serius untuk
menghidupkannya melalui pengajaran sastra di sekolah, sanggar-sanggar,
pertunjukan,
peraduan (lomba), pelatihan, dan berbagai festival. “Kami
juga membentuk komunitas pantun. Anggotanya sejak anak-anak muda sampai
orang tua.Berlokasi di Jl Bayangkara, di rumah
Pantun ini tiap
Senin dan Kamis sore, komunitas pantun berkumpul untuk berlatih bersama
Tusiran. Tak cukup dengan itu, tiap Ahad, latihan juga diadakan
di Gedung Kesenian Tanjung Pinang, yang diasuh Teja Alhabsi.
Pesertanya, sejak remaja hingga orang tua. Dan, merekalah yang pada malam hari suka berkumpul di
Kafe Pantun, di Bintan Center, untuk bermain pantun bersama.
Dengan tajuk Festival Pantun Serumpun, acara akan
diisi peraduan pantun se Asia Tenggara, pencatatan rekor berpantun
terlama MURI, eksebisi pentun para pejabat, cerdas cermat pantun,
berpantun bersama Tusiran Seseno, kedai pantun untuk umum, orasi
pantun, opera pantun, dan peluncuran buku Negeri Pantun. ‘’Juga
deklarasi Tanjungpinang sebagai Negeri Pantun,” kata Ketua Yayasan
Panggung Melayu (YPM), Asrizal Nur, pelaksana festival.
Sebelumnya, tambah Suryatati, beberapa iven besar telah digelar di
Tanjungpinang, seperti Peraduan Pantun Melayu Serumpun pada tahun 2001,
2003 dan 2004, serta peraduan pantun Melayu serumpun dalam Festival
Budaya Melayu Internasional 2006.Misalnya, “ada bapak wudelnya bodong, minta rokoknya
dong!” Maksud yang sama mestinya dapat disampaikan dengan sampiran yang
lebih santun, misalnya, “buah papaya buah kedondong, minta rokoknya
dong!”
Uniknya, di tengah maraknya pantun gaul ala carmina, menurut Suryatati
A Manan, masyarakat Tanjungpinang masih tetap mempertahankan pantun
empat baris dengan sampiran yang indah dan santun, baik untuk
pergaulan, pengantan perhelatan, pemanis sambutan maupun pidato politik.Kami sedang beradu pantun,” kata Tusiran Suseno,
sastrawan Tanjungpinang, yang malam itu ikut suntuk bermain pantun di
kafe yang terletak di kawasan Bintan Center.
Nama kafe itu sebenarnya Nick Nack Cafe.
Tapi, karena biasa untuk nongkrong para pecinta pantun untuk beradu
pantun sambil melepas penat, maka orang pun menyebutnya sebagai Kafe
Pantun. Di kafe itu pula para anggota Komunitas Pantun
Tanjungpinang biasa berkumpul.
Untuk dapat ikut beradu pantun gampang-gampang susah. Diperlukan
latihan dan pembiasaan diri secara terus-menerus agar dapat lincah
berbalas pantun.
Kekayaan kosa kata, pengetahuan lingkungan, kecerdasan, dan kemampuan
spontanitas, sangat diperlukan agar dapat berjaya dalam peraduan pantun
(lomba berbalas pantun).
Acara peraduan pantun dapat dikemas dengan menghadirkan semacam moderator sebagai penengah. Dialah yang mengatur “jual-beli” pantun dua kelompok yang berbalas pantun.
Ringkasan lain tentang Era Baru Pantun Dari Kafe ke Pilkada