Melihat Perekonomian 2008 Lebih Realistis
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
41
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 30, 2008
Belum lagi genap dua bulan, pemerintah bersama dengan DPR mulai membahas perubahan APBN 2008. Asumsi-asumsi berusaha disesuaikan dengan perkembangan perekonomian yang prospeknya tidak sebaik yang diperkirakan semula.
Asumsi pertumbuhan ekonomi diturunkan dari 6,8 persen menjadi 6,4
persen dan asumsi inflasi dinaikkan dari 6 persen menjadi 6,5 persen.
Perkiraan ini lebih realistis dengan masih adanya kemungkinan
pertumbuhan yang lebih rendah dan inflasi yang lebih tinggi dari asumsi
tersebut.Bagi pemerintah, tantangan yang dihadapi adalah
meningkatnya defisit APBN terutama karena melonjaknya subsidi BBM dari
Rp 45,8 triliun menjadi Rp 102 triliun, dan subsidi listrik dari Rp
29,8 triliun menjadi Rp 42,6 triliun, serta subsidi pangan dari Rp 7,2
triliun menjadi Rp 19,8 triliun. Jika harga
minyak yang diasumsikan 83 dolar AS per barel dalam kenyataannya lebih
tinggi lagi, maka subsidi BBM dan listrik juga akan mengalami
peningkatan lagi. Perkiraan bahwa harga minyak
dunia akan menurun dengan melemahnya perekonomian AS ternyata tidak
terjadi karena permintaan yang tinggi terutama Cina dan India, dan
besarnya dana yang masuk ke pasar berjangka minyak yang mendorong
kenaikan harga masa datang.
Pemerintah tidak bersedia menaikkan harga BBM bersubsidi karena
khawatir meningkatkan inflasi yang kecenderungannya sudah meningkat
yang dapat membuat situasi sosial-politik menjadi tidak menguntungkan
menjelang Pemilu dan Pemilihan Presiden tahun 2009.Bagi pemerintah situasi ini tentu saja tidak
menguntungkan pada saat semestinya pemerintah dapat menunjukkan
prestasi yang lebih baik dalam perekonomian menjelang pemilu.
Kenaikan harga bahan pangan yang terjadi tidak saja di dalam tetapi
juga di luar negeri mendorong kenaikan inflasi. Banyak pihak tidak
menduga tingginya inflasi pada bulan Januari.
Upaya untuk mengendalikan harga pangan dilakukan terutama dengan
mempermudah impor, namun dengan tingginya harga pangan di pasar
internasional, upaya tersebut tidak seefektif yang diharapkan. Jikapun inflasi lebih tinggi dari yang diperkirakan,
BI kemungkinan hanya akan menaikkan bunga sekitar 0,25 persen yang
implikasinya pada bunga perbankan tidaklah terlalu besar. Karena
itu perbankan masih merupakan bisnis yang tumbuh cukup baik dalam
keadaan relatif sulit ini.
Bisnis perdagangan tradisional dengan konsumen masyarakat berpendapatan
rendah mengalami tekanan, sedangkan perdagangan modern masih tumbuh
cukup baik. Dalam sitiuasi demikian maka kesenjangan masyarakat
berpendapatan rendah dengan yang berpendapatan tinggi akan semakin
melebar. Masalah ini menjadi isu politis yang cukup serius dalam pemilu
tahun depan.
Keefektifan berbagai penyesuaian dan program akan sangat membantu
mengurangi beban terutama masyarakat miskin. Begitu pula masyarakat
pada umumnya harus menyesuaikan diri sedapat mungkin dengan
perkembangan ini. Situasi menjadi lebih serius karena menjelang Pemilu
dan Pemilihan Presiden tahun 2009.