Komisi XI DPR akhirnya menolak calon gubernur
BI yang diajukan Presiden.
Ini merupakan preseden baru karena penolakan seperti itu belum pernah
terjadi sebelumnya terhadap calon anggota dewan gubernur. Implikasinya,
Presiden harus mengajukan nama calon baru, baik itu dari
dalam maupun
luar BI.
Selain itu, Presiden harus secara hati-hati menominasikan seseorang
kalau tidak ingin terjadi penolakan kembali. Pertanyaannya, sosok
seperti apa yang layak untuk menakhodai BI? Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis
di harian ini mengenai kriteria ideal calon gubernur BI.Nilai aset yang menjadi agunan kredit merosot tajam sehingga perbankan dihadapkan pada bahaya moral hazard yang semakin nyata. Sampai titik ini, krisis finansial merupakan ancaman terbesar.
Emerging market di Amerika Latin, Eropa Timur
dan sebagian Asia juga menghadapi gejolak di pasar modal dan perbankan. Harga saham yang meroket terlalu tajam akhirnya harus mengalami koreksi yang dalam.Kesalahan yang dilakukan sepuluh tahun yang lalu jangan terulang lagi.
Pengambilalihan kedaulatan
moneter ke tangan IMF telah terbukti membawa
katastropi kemanusian yang sampai saat ini masih
kita rasakan.
Negara-negara maju yang sekarang menghadapi krisis finansial justru
melakukan hal yang sebaliknya dari yang pernah diterapkan IMF pada kita. IMF menyarankan pengetatan fiskal dan moneter yang menyebabkan krisis menjadi semakin dalam. Saat ini, AS dan negara maju lainnya justru melakukan pengenduran moneter.
Dari hal ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa adalah
sangat penting
mengangkat seorang Gubernur BI yang andal di bidang moneter sehingga
ketika ada masalah berat yang muncul tidak serta merta meminta bantuan
IMF. Karena itu pula kita tidak menghendaki pejabat publik yang memilki pemikiran yang segaris dengan IMF. Bahkan, dengan harga minyak yang sekarang berada di
atas 110 dolar AS, asumsi di dalam APBN-P masih saja ditetapkan sebesar
85 dolar AS. Sebuah kesalahan fatal yang sebenarnya tak perlu
terjadi kalau kita berpikir secara konvensional. Celakanya, memang
pemikiran ekonomi kita terlalu didominasi dengan paradigma konvensional
yang sangat ortodoks.
Dengan lumpuhnya fungsi anggaran, satu-satunya harapan bagi stabilisasi
ekonomi makro adalah melalui kebijakan moneter. Tetapi pilihan
kebijakan moneter-pun menjadi sangat terbatas jika kita masih bertumpu
pada instrumen moneter yang sangat konvensional. Kebijakan moneter yang konvensional saat ini terlalu bertumpu pada kebijakan suku bunga melalui BI rate.
Ringkasan lain tentang Mencari Malaikat Moneter