Krisis KPR berkualitas rendah (subprime mortgage) membawa pengaruh
besar terhadap pelemahan ekonomi
as. Kerugiannya diperkirakan mencapai
sekitar 400 miliar dolar AS.
Dalam sektor keuangan,
bank investasi (investment bank) yang aktivitasnya lebih banyak
memperjualbelikan surat-surat berharga, bukan bank komersial, yang
paling terpukul. Bahkan, banyak ekonom yang memperkirakan
akibatnya lebih luas lagi, yaitu ekonomi AS mengalami resesi.
Maksudnya, pertumbuhan negatif dua triwulan berturut-turut yang hanya
diketahui setelah kejadiannya. Sekalipun bank sentral
AS telah menurunkan bunganya menjadi 3,25 persen
dan pemerintah AS
memberikan stimulus fiskal, tampaknya
tidak banyak menolong
perekonomian yang terus melemah.Sedangkan, krisis KPR itu sendiri tidak langsung
memberikan pengaruh pada perekonomian Indonesia
karena lembaga keuangan
di Indonesia tidak membeli sekuritas turunan
dari KPR tersebut.
Pengaruh besar lainnya adalah melemahnya perekonomian AS membuat ekspor
Indonesia juga menurun karena pasar AS tetap merupakan salah satu
tujuan ekspor utama.
Pelemahan
nilai rupiah ini seiring dengan menurunnya
indeks pasar modal, yang berarti investor asing melepas kepemilikan
sahamnya, dan juga pelemahan di pasar obligasi.
Tampaknya, permasalahan yang pernah kita alami beberapa bulan yang lalu
pada saat pertama kali permasalahan KPR di AS mencuat, nilai rupiah
melemah karena investor melepaskan saham dan obligasi Indonesia untuk
memenuhi kewajiban pembayaran mereka sebagai akibat dari permasalahan
KPR ini. Kebijakan fiskal berkutat pada besarnya anggaran untuk
subsidi BBM dan listrik yang kemungkinan akan mencapai sekitar Rp 200
triliun dengan harga minyak berkisar pada angka 100 dolar AS per barel. Jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi untuk mengurangi subsidi, inflasi pun akan semakin tinggi.
Dengan harga bahan makanan yang cenderung meningkat, baik di dalam
maupun luar negeri, inflasi yang relatif tinggi tidak dapat dihindarkan.Nilai rupiah yang kuat merupakan cara yang efektif untuk mengendalikan inflasi karena cukup besarnya porsi impor bahan makanan.
Karena itu, BI harus lebih aktif dalam membuat nilai rupiah relatif
kuat. Tentu saja, distribusi bahan makanan merupakan faktor penting
lain untuk menjaga harga bahan pangan agar tidak melonjak yang
pengaruhnya besar terhadap inflasi.
Sekarang ini, perbedaan antara suku bunga Indonesia dan AS cukup besar
yaitu 4,75 persen. Karena itu, dari sisi ini, Indonesia sangat menarik
untuk investasi portfolio. Dari sisi ini pula, nilai rupiah semestinya
mengalami penguatan. Permasalahannya adalah kejelasan dalam kebijakan
moneter dan fiskal yang akan memberikan kepastian pada investor.
inim. Sebagai contoh, produksi minyak yang seharusnya mengalami peningkatan malah mengalami penurunan.
Begitu pula dalam bidang pertambangan, Indonesia tidak menarik sebagai
tujuan investasi karena peraturan yang tidak mendukung dan tidak adanya
insentif yang menarik. Produksi pertanian, kecuali CPO, juga jauh dari situasi untuk memanfaatkan siklus ini.
Ringkasan lain tentang Melemahnya Ekonomi AS dan Ekonomi Indonesia