Kalian siapa?” seorang laki-laki tua berkain sarung bertanya dengan nada berang.
Ia menghampiri saat kami memotret spanduk-spanduk anti-PLTN yang
terpampang
di sepanjang jalanan
Desa Balong, Kecamatan Kembang,
Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.Fasilitas yang dibangun di atas tanah bengkok carik di
Balong itu kini kosong, setelah pada tanggal 28 Februari 2008 disegel
warga. Tembok setinggi satu meter dengan pecahan kaca di atasnya menutup gerbang masuk kantor ini.
Semangat menolak PLTN terasa kental di
antara 100-an warga yang kami temui di desa itu. ”Di sini yang pro-PLTN paling banyak lima persenan,” ujar Kasmiran (50-an), seorang warga desa.
Menurut penasihat Persatuan Masyarakat Balong (PMB), Sunarto (48), pemerintah ikut menciptakan ketegangan
dan perpecahan warga.
Di Balong dan beberapa desa
sekitar, diam-diam telah dibentuk
kelompok-kelompok pendukung PLTN yang sering mengadakan pertemuan.”Yang
datang biasa diberi uang Rp 25.000. Bahkan, kepentingan-kepentingan di dalam kelompok yang
mendukung maupun yang menolak pembangunan PLTN spektrumnya sangat
panjang.
Salah satu kelompok ”bentukan” itu, katanya, dimaksudkan untuk
menjembatani dua pihak yang berpunggungan. ”Tetapi malah mengarahkan
masyarakat untuk mendukung PLTN,” ujar Sumedi
dari Persatuan Masyarakat
Balong (PMB).
Kemudian juga ada semacam lembaga swadaya masyarakat yang memberi janji
pekerjaan kalau PLTN dibangun. ”Padahal yang dibutuhkan pasti paling
rendah S-1.ebelum PLTU dibangun, masyarakat juga diiming-imingi pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Dari Dukuh Tukrejo, Desa Bondo, Kecamatan Mlonggo, sekitar dua
kilometer dari lokasi PLTU, asap hitam dari cerobong mengepul ke udara.
Lampu di rumah penduduk padam siang itu. ”Biasa, di sini kalau hujan
mati lampu,” ujar Priyo (32), seorang nelayan. ”Kan listriknya memang
bukan untuk kami.”
Kata Priyo, sejak PLTU itu beroperasi, penghasilan mereka jatuh. ”Kalau
mau dapat
ikan seperti dulu harus pergi jauh ke tengah,” katanya.
Jalur lalu lintas kapal tanker pengangkut batu bara sangat memberatkan
nelayan. ”Itu jalur tangkapan ikan nelayan kecil di sekitar Jepara,”
ujarnya.
Kalau dulu ikan didapat secara merata di sekitar 25-30
jaring yang ditebar, sekarang ikan bergerombol karena terumbu karang
hilang. ”Proses pendinginan PLTU itu membuat
suhu air laut meningkat,” ujar Lilo Sunaryo dari Masyarakat Rekso Bumi
(Marem), yang juga ahli energi.
”Kenaikan suhu satu derajat saja bisa mematikan plankton, padahal itu makanan ikan dan udang kecil. Ikan dan udang kecil adalah makanan ikan yang lebih besar. ”Kemarin kami bawa bekal Rp 400.000, hasilnya cuma Rp
190.000.”
Masyarakat nelayan yang jumlahnya sekitar 5.000 KK hanya meminta kepada
pengelola PLTU agar keluar masuk kapal pada siang hari saja.
”Malam adalah waktu kami menangkap ikan,” ujar Priyo. Mereka pernah
mengadukan hal itu kepada pengelola PLTU, tetapi responnya tidak
memuaskan. ”Mereka malah berdalih karena kalau bahan bakar terlambat,
kerugiannya bisa miliaran rupiah. Padahal sering kapal yang satu pembongkarannya harus tunggu lama karena kapal yang lain belum selesai dibongkar,” katanya.Sementara di Balong, pemerintah tampaknya tak akan kesulitan karena sebagian besar tanah di situ milik PTP Balong-Beji. Lokasi tapak PLTN di Balong terletak di pinggir pantai, sekitar tiga-empat kilometer dari desa. Di desa itu ada petilasan yang dipercayai sebagai makam Syech Siti Jenar.
Ujung Watu, Balong, dan Ujung Grenggengan di Semenanjung Muria, kata
Lilo, merupakan tiga lokasi yang dipilih dari 14 lokasi yang disurvei. Namun, menurut Kepala Bapeten As Natio Lasman (52), semua itu baru penjajakan awal. Sampai saat ini, belum ada satu pun lokasi yang telah ditentukan untuk PLTN.
Ringkasan lain tentang Antara Balong dan Bondo