Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Sangat Penting, Akses Informasi

.

Sangat Penting, Akses Informasi

Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 14  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 30, 2008
Sebenarnya ada satu hal yang dapat mempertemukan pihak
yang mendukung maupun yang menolak rencana pembangunan pembangkit
listrik tenaga nuklir atau PLTN. Yakni,
keyakinan bahwa rakyat bisa memutuskan yang terbaik, dengan catatan,
sosialisasi tentang PLTN diberikan secara benar dan lengkap.
Menurut ilmuwan rekayasa nuklir yang juga mantan Wakil Kepala Badan
Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Dr Bakrie Arbie, sosialisasi informasi
yang benar dan lengkap tentang PLTN sangat penting.
Salah satu cara ”sosialisasi PLTN”, seperti dicatat Dian Abraham yang
akrab disapa A’am, dari Masyarakat Antinuklir Indonesia (Manusia),
adalah mengajak pihak-pihak tertentu berangkat ke Korea Selatan dan
Jepang, yang masing-masing memiliki 22 dan 55 reaktor nuklir sebagai
pembangkit energi.

urat itu mendapat tanggapan tanggal 10 September,
selembar surat berkop surat Departemen energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia, Pusat Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan
Sumber Daya Mineral, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan. Isi surat itu
antara lain, ”…pemerintah tetap mempertimbangkan aspek teknis maupun
nonteknis termasuk masalah penerimaan masyarakat”.
Banyak tak diketahui
Bakrie Arbie menyambut perdebatan pro-kontra PLTN asal dilakukan dalam
koridor intelektual. Ia melihat banyak hal masih belum dipahami
masyarakat.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Pendayagunaan Teknologi
dan Investasi itu mengatakan, ”PLTN relatif bersih dan membantu
memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri.”
Krisis energi, kata Bakrie Arbie, sebenarnya sudah terjadi sejak tahun
2004 ketika Indonesia menjadi pengimpor minyak.
”Sementara yang kita punya dijual. Kontraknya jangka panjang. Yang
dapat untung dari kenaikan minyak dunia bukan kita,” katanya.
Keterangan itu seperti menegaskan yang disinyalir para ilmuwan yang
menolak PLTN bahwa ”krisis” energi di Indonesia sebenarnya terkait
dengan soal salah urus.Sosialisasi yang benar
Menurut Bakrie Arbie maupun Herliyani, masyarakat nuklir membutuhkan
kedisiplinan sangat tinggi, sesuatu yang sangat dikhawatirkan pihak
yang menolak PLTN.

”Ujung tombak sosialisasi harus mereka yang tidak bias dan tahu persis masalah PLTN, teknis dan risikonya,” ujar Herliyani. ”Harus dijelaskan PLTN tipe apa untuk Muria dan bahwa yang digunakan lebih aman dari yang di Chernobyl,” tambahnya.
Selain itu, juga harus dijelaskan ketersediaan bahan bakar uranium
karena cadangan di Kalan, Kalimantan Barat, hanya untuk 11 tahun. Yang tak kurang penting adalah struktur pembiayaan PLTN dan keekonomian PLTN.

Untuk mengurangi kemungkinan korupsi, Bakrie Arbie cenderung memilih kerja sama built operate transfer (BOT).
Namun, menurut fatwa alim ulama Jepara, BOT sangat merugikan, ”Karena
justru kita akan ditinggali PLTN yang sudah dalam keadaan uzur dan
kelak harus menanggung biaya dekomisioning.”
Hal serius lainnya terkait dengan limbah nuklir. Pada prinsipnya, reaktor di PLTN dan reaktor untuk penelitian sama, hanya skalanya yang beda,” kata dia.
Menurut Lasman, masalah keamanan dan keselamatan terkait dengan nuklir
sangat ketat. IAEA bisa datang memeriksa kapan saja, khususnya setelah
serangan teroris 11 September 2001 di New York.
Karena itu, upaya maksimal dan proaktif yang telah dilakukan dalam
industri nuklir, khususnya pembangkit nuklir, menurut ElBaradei, tak
boleh membutakan kita terhadap kerentanannya kalau menjadi sasaran
serangan teroris.

Ringkasan lain tentang Sangat Penting, Akses Informasi
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------