• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Membongkar Kasus ''Politik Sastra Gombal''

.

Membongkar Kasus ''Politik Sastra Gombal''

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Katrin Bandel
Amanshauser tentang novel Saman juga penuh pujian
gombal yang membosankan terhadap Ayu Utami, tapi sambil lalu dia

memberi informasi yang sangat menarik. Dua kali
Amanshauser mengutip sebuah teks yang dijadikannya rujukan untuk
"membuktikan" kehebatan Ayu Utami, yaitu pidato yang disampaikan pada
saat Ayu Utami menerima penghargaan Prince Claus Award di Belanda pada
tahun 2000.(Pemakaian huruf kecil adalah bagian dari gaya sok eksentrik
Amanshauser.)
Sudah jelaslah sekarang dari mana asal klaim tentang Saman sebagai
pertanda perubahan politis dan gagasan bahwa Saman sama sekali berbeda
dari karya-karya sastra Indonesia sebelumnya!
Setelah menemukan kutipan tersebut, saya berusaha mencari keseluruhan
pidato Goenawan Mohamad tersebut lewat internet, tapi tidak berhasil
menemukannya. Di website Prince Claus Fund saya hanya menemukan
penjelasan yang sangat singkat tentang alasan kemenangan Ayu Utami.
Bahwa Goenawan Mohamad terlibat pembuatan pidato pemberian penghargaan
sama sekali tidak disebut-sebut.
Mengapa di Jerman dan Austria tambahan mengenai
artikel dan esei di media underground, buku anonim tentang rejim
Soeharto dan novel-novel yang tidak pernah diterbitkan (bertentangan
dengan keterangan dalam edisi Indonesia bahwa Ayu Utami "jarang menulis
fiksi") dirasakan perlu?
(Dan akan terkesan lebih janggal lagi kalau kita
mengetahui bahwa terjemahan ke dalam bahasa Belanda belum selesai pada
waktu Ayu Utami memenangkan Prince Claus Award, dan versi bahasa
Inggrisnya pun belum ada.)
Mengapa di Indonesia sendiri tulisan-tulisan "bawah tanah" Ayu Utami
itu jarang atau tidak pernah disebut? Saya tidak tahu jawabannya.
Tapi saya yakin bahwa seandainya tulisan-tulisan itu disebut, pasti
publik Indonesia, khususnya orang yang punya kepedulian terhadap sastra
Indonesia, akan bertanya: di manakah tulisan yang begitu banyak dan
beragam itu? Di media underground mana Ayu
Utami menulis, di mana buku anonim tentang korupsi rejim Soeharto itu,
di mana novel-novel yang ditolak penerbit itu?Tapi masuknya Ayu Utami ke dalam daftar buku di
halaman website amnesty international itu tentu tidak bisa dilepaskan
dari politik pencitraan dirinya sebagai "disiden" dan "pemberontak"
yang saya bicarakan di atas.
Dan, dengan adanya pidato Goenawan Mohamad yang saya sebut di atas,
semakin nyata bahwa citra itu tidak timbul begitu saja, atau hanya
diciptakan penerbit dan penerjemahnya, tapi bahwa KUK pun mendukung dan
dengan aktif dan sengaja mengarahkan pencitraan Ayu Utami yang demikian
rupa di luar Indonesia.
Figge membuka laporannya dengan kedua kalimat:
"Ayu Utami kommt zu spaet. Eine typisch indonesische Angewohnheit --
aber wohl ihre einzige." (Ayu Utami datang terlambat. Kebiasaan yang
khas Indonesia -- tapi sepertinya satu-satunya kebiasaannya yang khas
Indonesia.")
Bukankah penggambaran tersebut luar biasa rasis?
Diterbitkan di: Maret 30, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.