FILM "FITNA" YANG MENGHEBOHKAN DUNIA
Summary rating: 4 stars
12 Tinjauan
Kunjungan:
500
kata:
300
Diterbitkan di: Maret 29, 2008
Sekarang ini sedang heboh-hebohnya diulas soal ulah seorang anggota parlemen Belanda di Amsterdam yang bernama GEERT WILDERS merilis sebuah film pendek berdurasi 15 menit yang isinya melecehkan Al-Qur'an dan kaum muslimin dunia.Diantaranya banyak yang menyayangkan hal ini, terpetik sebuah komentar dari Bekas Presiden Indonesia, Bapak K.H.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Beliau
mengatakan, pengaruh publikasi film "Fitna" tidak akan menjadi faktor
pemicu kebencian dan ketegangan masyarakat beragama di Indonesia
terhadap Islam. "Ah, enggak ada kebencian terhadap Islam. Enggak ada ancaman. Wong pemerintah Belanda sudah larang film itu beredar. Kalau konflik kelompok, kan, malah sudah ada lebih dulu. Tidak terkait dampak film itu,". Lebih lanjut Gus Dur mengatakan, jika mengikuti prinsip Islam, pihak muslim menolak beredarnya film itu.
Sedangkan, dari sudut pandang Undang Undang Dasar 1945, kata Gus Dur,masyarakat beragama tentu harus membuka ruang diskusi untuk menyikapi
film itu.
"Tetapi OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang Indonesia termasuk anggotanya, sudah memutuskan bahwa film itu dilarang. seperti diberitakan sebelumnya, video film dengan
durasi 15 menit itu memuat potongan ayat-ayat Al-Quran di antara gambar
pidato ulama radikal Islam, dan juga gambar-gambar tindak kekerasan, juga dsiisipkan peristiwa WTC yang intinya menyalahkan umat Islam. Video tersebut dimuat di situs video sharing LiveLeak.
Film berjudul Fitna itu dirilis meskipun himbauan dari pemerintah Belanda agar tidak dilanjutkan. Akibat publikasi film itu, timbul ketegangan di berbagai negara, terutama yang berbasis Islam. Namun tidak hanya umat islam, rupanya dari komunitas kristen di belanda pun menolak keras film tersebut, karena bisa memmicu konflik antar agama.Oleh Presiden Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Beliau menghimbau kepada semua pihak terkait untuk mencekal Geert Wilders masuk ke Indonesia, sebagai langkah ketidaksetujuan Beliau.