Tjahja Gunawan Diredja Masalah pengangguran
dan kemiskinan merupakan persoalan sepanjang masa yang akan dihadapi para pemimpin
Di negeri ini. Kedua masalah ini ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Banyaknya pengangguran bisa meningkatkan jumlah kemiskinan di negeri ini.
Oleh
karena itu, jika ada kelompok masyarakat yang kreatif mengembangkan usaha di
sektor informal seharusnya bisa diapresiasi oleh semua pihak, terutama pemerintah karena usaha kaki lima (sektor informal) secara tidak langsung ikut mengatasi masalah pengangguran. Namun, yang sering terjadi, para pedagang kaki lima yang terbukti bisa bertahan terhadap berbagai situasi ekonomi justru sering diuber-uber petugas keamanan dan ketertiban. Tenaga
kerja informal atau musiman maupun tenaga kerja tetap banyak juga yang mengais rezeki di sektor properti.
Waktu itu sektor properti termasuk bidang usaha yang pertama kali terkena imbasnya karena kala itu banyak proyek properti komersial yang mendapatkan kredit dari perbankan. Krisis properti Pada saat perbankan menghentikan penyaluran kredit ke industri properti, seketika itu pula banyak proyek-proyek properti yang mendadak berhenti. Akibatnya, banyak
terjadi kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan sejumlah perusahaan pengembang. Krisis properti yang terjadi di Indonesia
tahun 1997-1998 yang diakibatkan membubungnya jumlah utang pengembang karena kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan tingginya suku bunga pinjaman serta langkanya Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sangat berdampak pada krisis likuiditas pengembang.
Akibat kesulitan hidup dan banyaknya tenaga kerja yang menganggur, banyak lahan milik pengembang yang tidak terpakai yang digunakan oleh masyarakat bawah untuk bercocok tanam pertanian. Gelombang PHK yang terjadi pada tahun 1998-1999 memang sangat mengerikan karena kasus PHK selain terjadi di sektor konstruksi dan real estat juga terjadi di sektor formal, terutama di dunia perbankan.
Ketika membagikan bahan pokok pada tahun 1998, seorang pengembang yang membangun proyek perumahan Japos di Ciledug, Kabupaten Tangerang, MS Hidayat (sekarang Ketua Umum Kadin Indonesia), nyaris tidak percaya saat menyaksikan antrean panjang masyarakat bawah yang mendambakan pembagian bahan pokok. Apalagi, di antara massa yang antre itu ada yang sampai jatuh pingsan.
Jumlah tenaga kerja lainnya yang terlibat secara tidak langsung dalam industri properti yang merupakan industri pendukung bisnis properti sekitar 104 unit usaha. Misalnya mereka yang bekerja sebagai tukang batu bata, industri semen, besi, dan mereka yang bekerja membuat genteng.
Tahun 2008 dan 2009 merupakan tahun krusial bagi bangsa ini, terutama dalam menangani masalah pengangguran dan kemiskinan. Dua masalah ini pun bisa dijadikan ”komoditas” oleh para kelompok kepentingan, terutama para politisi yang berorientasi kekuasaan dan uang. Apalagi dua tahun terakhir ini akan ada agenda politik pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden. Jadi, hati-hatilah.
Ringkasan lain tentang Sektor Properti, Alternatif Atasi Pengangguran