Gedung bergaya arsitektur modern (tropis) Indonesia yang berkembang sekitar 1930-1940 ini menonjol dengan bagian puncak atapnya
yang menyerupai atap mesjid. Sekitar 100 meter dari NHM arah ke hulu Batang Arau, terdapat Gedung Padangsche Spaarbank didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua dengan tinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik yang mendapat pengaruh dari arsitektur art-deco. Gedung dengan gaya mahkota di bagian depan atas dengan tulisan 1908 ini besar kemungkinan gedung terbagus di zamannya di
kawasan Padang Kota lama.
sebelah Spaatbank terdapat gedung NV Internatio, sebuah perusahaan dagang, yang dibangun sekitar 1910. Gedung yang sekarang milik BUMN Cipta Niaga itu berarsitektur neoklasik bercampur modern yang berkembang sebelum 1920. Ada lebih selusin
bangunan lagi di Jalan Batang Arau yang menarik dan masih asli, di antaranya gedung bekas kantor Geo Wehry, gedung Okupasi Warga Keturunan Tionghoa, dan gedung bekas kantor Nederlansch Idische Escomto My. yang sekarang menjadi kantor Bank Mandiri. Jalan Batang Arau pada zaman Kolonial Belanda merupakan kawasan perkantoran pemerintahan, perdagangan, dan militer.
Hal ini berbeda dengan kawasan di belakangnya dan bagian ke hulu Batang Arau yang merupakan kawasan pasar di mana terdapat deretan toko-toko lama. Tiga Pasar Lama Ada tiga kawasan pasar di pengujung abad ke-19 itu yang bangunannya aslinya masih bisa dilihat sekarang. Ketiga pasar yang terletak bersebelahan dengan Jalan Batang Arau itu adalah Pasar Gadang (Pasar Hilir), Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi.
Bangunan yang menonjol di sini adalah ruko yang sekarang berfungsi sebagai agen penyalur Semen Padang dan sebuah rumah bulat yang hampir terletak di tengah jalan. Rumah bulat dulunya adalah warung dan sekarang sudah diperbaiki dan juga difungsikan sebagai warung. Bangunan di Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur arsitektur tradisional Cina dan ukiran pada ornament dinding, dan atap pada beberapa bangunan pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu. Bangunan lain yang menarik adalah sebuah ruko yang terletak di Jalan Pasar Malintang, hanya 60 meter dari Pasar Gadang. Bangunan yang sekarang menjadi rumah tinggal itu dulunya adalah toko batik yang dibangun sekitar tahun 1902.
Gedung yang menonjol di sini adalah Kelenteng yang dibangun pada abad ke-17 dan gedung HBT (Himpunan Bersatu Teguh). Sayang, selain Kelenteng umumnya bangunan berbentuk rumah toko (ruko) di Pasar Tanah Kongsi ini sudah diubah bentuknya, kecuali bagian atapnya. Kawasan Lainnya Sebagai kota penting di zaman Pemerintahan Hindia Belanda, tentu bangunan lama tak hanya terdapat di Padang Kota Lama. Tetapi juga ada di beberapa tempat yang memang hanya berjarak hingga 1,5 km dari kawasan Padang Kota Lama.
Meski begitu, sebagian besar bangunan di Padang Kota Lama tak memiliki fungsi yang berarti yang berhubungan dengan kegiatan wisata selain sebagai gudang dan bahkan sebagian dijadikan tempat usaha burung walet. Satu-satunya bangunan yang saat ini dijadikan hotel dan restoran hanyalah Hotel Batang Arau. Tempat ini alternatif untuk menginap dan menikmati hidangan dan minuman di restorannya dengan pemandangan sungai Batang Arau yang banyak kapalnya. Suasana hotel dan restoran yang bersahabat akan membuat Anda betah karena seperti di rumah sendiri