Krakkkk…. Suara gemeretak papan kayu penghubung dermaga
di Desa Lungkuh Layang, Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dengan lantai kapal penyeberangan (feri), Senin (10/3) sekitar pukul 02.00, memecah kesunyian hutan tepian
Sungai Kapuas. Papan kayu itu patah.
Selaiknya sopir yang bertanggung jawab terhadap keselamatan penumpang, Agus, pegawai negeri sipil Kalteng yang malam itu bertugas mengemudikan
bus mini dari Barito Utara menuju Palangkaraya langsung mengerem
kendaraan sambil berteriak, ”Cepat keluar, Mas!” Kami yang masih berada di dalam bus segera bertemperasan (tunggang langgang) keluar, mencari-cari pijakan pada papan-papan kayu ulin untuk kemudian melompat ke atas feri menyusul rekan-rekan yang sudah lebih dulu keluar.
Akan halnya feri di Sungai Kapuas, kendaraan penyeberang itu bukan seperti kapal besi yang biasa terlihat di selat-selat antarpulau, melainkan berupa dua perahu mesin yang disatukan
dan menyangga lantai kayu tempat kendaraan yang akan diseberangkan.
Bahkan, penuturan Noel, petugas protokol Gubernur Kalteng, pada tahun 1990-an pernah terjadi di Kabupaten Kapuas ada mobil yang saat diangkut di atas feri ternyata remnya blong sehingga meluncur
Ke sungai dan menewaskan sepasang pengantin di dalamnya. Rombongan yang terdiri dari empat wartawan (Kompas, TVRI, RRI, dan ANTV), tujuh pegawai Biro Humas dan petugas protokol Gubernur Kalteng, serta lima tukang feri kemudian mencari-cari cara menepikan bus mini yang posisinya di atas lantai dermaga yang melandai ke arah sungai itu.
lama karena sekitar satu jam kemudian bahan bakar genset habis sehingga gelap kembali menyelubungi. Mau tak mau peranti apa pun yang bisa menghasilkan cahaya pada dini hari itu kami manfaatkan: senter, mancis berlampu (sebutan masyarakat setempat untuk korek api produk China yang di sisi bawahnya berupa senter), dan juga handphone yang di sisi atas ada lampu kecil.
Tetapi di pedalaman Kapuas, hanya kendaraan bus mini kami yang dini hari itu melintas. Tak ada pilihan bagi kami selain harus menggunakan dongkrak manual, rantai, tali tambang, dan juga balok kayu ulin untuk mengungkit moncong bus. Karena semua dikerjakan secara manual dengan jumlah orang tidak sebanding dengan berat bus, dibutuhkan waktu tiga jam sebelum kendaraan itu secara perlahan ditarik ke belakang sehingga menjauh sekitar empat meter dari bibir sungai. Habislah waktu sekitar empat jam di Dermaga Lungkuh Layang, mulai jam 02.00 saat bus tergelincir hingga sekitar pukul 06.00 ketika kendaraan itu berhasil dinaikkan lagi ke feri untuk dilayarkan ke seberang sungai Kapuas.
Karena jalan sepi dan tidak ada yang membantu mendorong, jadilah para remaja itu bermalam di dalam mobil yang terjebak lumpur di jalanan tengah hutan. Begitu mobil terbebas, bus kami pun segera berupaya melintasi ruas berlumpur tadi, zig-zag dengan kecepatan agak tinggi sehingga roda tidak amblas. Dalam kondisi normal, jarak Muara Teweh, ibu kota Barito Utara, dengan Palangkaraya sejauh 605 kilometer dapat ditempuh sekitar 12 jam. Namun, akibat papan kayu feri penyeberangan patah ditambah lumpur di jalan tanah, kami butuh waktu sekitar 18 jam untuk menempuh rute tersebut. Berangkat dari Muara Teweh Minggu sore pukul 17.00, sampai di Palangkaraya Senin beberapa menit selepas pukul 11.00.
Ringkasan lain tentang Repotnya Bepergian di Pedalaman Kalteng