Angin bohorok bagaikan naga
yang menjalar. Luka-luka
di seluruh
tubuhnya. Ditusuk oleh mimpi, dipukul
asmara, dijerat oleh harapan. Berdarah
seluruh tubuhnya. Ia ngangakan mulutnya,
menyuarakan duka ceritanya.
Dan ini menyiksa
makhluk lainnya.
Mulutnya menganga keluar
api tersebar dahaga dan makhluk lain tersiksa
PETIKAN puisi "Disebabkan Oleh Angin" karya Rendra itu diucapkan aktor
Ayi Kurnia Iskandar dengan suara serak dan ekpresi yang menegangkan.Pertunjukan bertajuk "Kata-kata Wot Angin" yang
melibatkan para aktor, penari, perupa, dan komunitas musik tradisi
(Sunda) ini, menghadirkan berbagai bentuk ungkap yang menyaran sebagai
respons terhadap instalasi karya Sunaryo dan Djuandi yang berjudul
"Wot" (Jembatan).
Instalasi itu sendiri tegak dan menghampar dengan kontruksi media
bambu, membentuk semacam
Jembatan di atas satu jalan di bawahnya. Di
antara hamparan jembatan
bambu itu, tegak menjulang tiang-tiang bambu
dengan bendera dan atribut kain merah. Pucuk-pucuk batang bambu yang lentur dan kain merah di atas jembatan, memberi aksentuasi yang tegas pada kehadiran angin.
Gerak pepohonan dan pucuk-pucuk bambu, kibaran
kain-kain merah di antara konstruksi tiang-tiang bambu atau yang
dikibaskan para penari, atau
Angin yang tampak dari gerak api, terasa
langsung berinteraksi dengan segenap ungkapan
Pertunjukan malam itu.
Nonnaratif
Meski nyaris seluruh bagian pertunjukan malam itu berlangsung di atas
instalasi Sunaryo dan Djuandi, namun tidaklah lantas instalasi itu
berfungsi sebagai panggung.
Berbagai adegan dalam pertunjukan yang nonnaratif tersebut merupakan
upaya Wawan Sofwan untuk mencoba luluh ke dalamnya, seraya juga
menghadirkan sudut-sudut kesadaran berikutnya, terutama ihwal waktu dan
gerak manusia lewat potongan-potongan puisi Rendra dalam kumpulan
"Disebabkan Oleh Angin", kostum dan idiom-idiom gerak para penari,
kehadiran para aktor, dan elemen-elemen musikal tradisi Sunda.
Tafsir pertunjukan atas kumpulan puisi ini membawa
kesadaran ihwal angin pada gerak waktu dan ruang, juga gerak tabiat
alam dan manusia. Menafsir teks puisi itu ke
dalam pembagian Angin Muzon, Angin Bohorok, Angin Pagi, dan Angin
Malam, hendak merepsentasikan ruang dan waktu dimaksud.
Tanpa lantas terjebak menjadi satu narasi pertunjukan, setiap pembagian
menghadirkan suasana dan irama pertunjukan yang berlainan.
Pada Angin Bohorok, misalnya, teks yang dibacakan oleh Ayi Kurnia
Iskandar langsung ingin membetot penonton ke dalam ketegangan antara
alam dan manusia yang saling berhadapan. Liuk tubuh para penari dengan rentangan, kibasan, dan
permainan kain merah secara visual, ingin berinteraksi dengan
gerak-gerik batang-batang bambu yang melenting di sekujur tubuh
jembatan.
Yang menarik adalah ketika satu lagu muncul, seolah dari kejauhan.
Warna vokal Tohari Yos Dolac seperti gumam panjang dengan kemerduan,
yang mampu membangun suasana pertunjukan dari arah yang lain. Pertunjukan ini secara jelas memang hendak menekan pada bangun suasana.
Jembatan bambu, kain-kain merah, para penari, puisi, aktor, dan musik
serta lagu, hadir bersama dalam suasana yang dibayangkan bisa
membayangkan kesadaran ihwal hakikat perbedaan yang direpresentasikan
oleh satu jembatan angin.Demikian pula dengan rombongan koor yang sering terdengar tidak kompak.
Pertunjukan ini pun mengandaikan keterlibatan penonton di akhir
pertunjukan untuk turut merespons instalasi bambu karya Sunaryo dan
Djuandi. Penonton diajak berjalan melintasi jembatan angin itu.
Sayang, seremonial penutupan yang terlalu bertele-tele membuat suasana
yang sebelumnya telah dibangun oleh pertunjukan menjadi terputus.
Akhirnya penonton hanya berjalan di atas instalasi bambu itu, untuk
menyeberang menuju tempat mengambil makanan.
Ringkasan lain tentang Kata-kata di Jembatan Angin