HIDUP, tumbuh,
dan berkembangnya
seni Sunda bergantung pada orang Sunda itu sendiri.
Oleh karena itu, agar keseniannya tetap survive, perlu didukung oleh
berbagai pihak. Sudah barang tentu, motor penggeraknya
adalah mereka
yang punya kareueus pada seni Sunda, yaitu urang Sunda.
Arnold Hauser dan Janet Wolff menyatakan, seni adalah produk sosial.
Begitu juga seni Sunda, merupakan produk sosial urang Sunda.
Tentu saja yang jadi penyokongnya adalah seniman, masyarakat, dan
pemerintah, sekaligus menjadi pembentuk dan yang menghadirkan gaya seni
yang khas, juga secara bersama-sama menjadi pembentuk selera baru
dalam budaya Sunda.Sudah tentu, pemerintah punya misi budaya yang secara
halus terbungkus lewat agenda yang dikemas melalui program pelestarian
dan pengembangan seni dan budaya. Corongnya adalah lembaga
kebudayaan (Disbudpar).
Dengan demikian, pemerintah adalah power. Pada kenyataannya, power dan
culture saling mengisi. Seperti diungkapkan Eisenstadt bahwa culture
dan power tetap merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Power tanpa culture tak punya ciri, pun demikian ciri itu sendiri tanpa
dukungan kekuasaan tidak akan lestari.
Yang dipertanyakan, sejauh mana mereka benar-benar
memiliki rasa kecintaan pada seni dan budaya Sunda, sampai anggaran
kesenian yang sudah minim malah dipangkas. Ironisnya lagi, untuk
pengadaan laptop 20 anggota DPRD Kota Bandung dianggarkan dalam APBD
2007 Rp 500 juta, yangberarti harga untuk satu unit laptop Rp 25 juta
(Pikiran Rakyat, 29/3/2007). Sementara laptop yang cukup bagus harganya
hanya antara Rp 12-Rp 15 juta ("PR", 30/3/2007). Bayangkan bila
anggaran sebesar itu dipergunakan untuk merevitalisasi seni tradisi
yang akan punah!
Dana Rp 25 juta itu sungguh sangat berarti dan ideal untuk membuat
karya tari yang representatif, misalnya untuk drama tari atau
merevitalisasi tari Sunda buhun yang dikemas dengan citra rasa baru.
Yang lebih menyedihkan, pameran musik perkusi karya Dodong Kodir yang
dikurasi Isa Perkasa di Galeri Rumah Teh Taman Budaya Jawa Barat yang
batal dilaksanakan pada tanggal 21-28 April 2007, karena dananya belum
turun (cair) dari Gedung Sate.
Padahal, pameran itu sudah diagendakan jauh hari oleh Taman Budaya
bersama tim kurator serta direkomendasikan oleh Kadisbudpar Jawa Barat.
Ini menunjukkan bahwa tidak ada keseriusan pemerintah dalam
menumbuhkembangkan iklim kreativitas
seniman yang potensial.
Potret buram lain yang turut mengeliminasi gairah seniman dalam
kreativitas, terutama bagi mereka yang menyandarkan dana stimulan pada
Disbudpar.Hal yang dipertanyakan juga adalah menyoal tim misi
kesenian di bawah naungan Disbudpar (Jawa Barat) dan Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata (Disbudpar) sejumlah kabupaten dan kota.
Sudah tidak aneh, biasanya Disbudpar dalam menyiapkan misi kesenian,
para anggotanya (penari, pengrawit, dan kreatornya) diambil dari
berbagai grup yang ada di Jawa Barat.
Namun yang sangat disayangkan, perekrutan para anggota tim sepertinya
tidak transparan dan tanpa melalui seleksi yang ketat yang berdasarkan
penilaian objektif yang proposional dan profesional dari para inohong. Selayaknya, para anggota tim yang terlibat misi
kesenian, personelnya bukan permanen seperti grup dan monopoli yang
melulu orang Bandung, atau pelakunya itu-itu saja.
Mengingat lembaga ini milik orang Sunda (Jawa Barat), seniman yang ada
di daerah pun seharusnya dilibatkan secara bergiliran untuk misi
kesenian tersebut. Mereka yang direkrut itu
tentunya telah melalui seleksi yang ketat, yang secara kompetitif
memiliki skill, nalar, serta pengalaman yang tentunya sesuai dengan
bidang yang digelutinya.
Salah satu hal yang paling penting disadari bersama
arti fungsi lembaga adalah sebagai fasilitator, dan seniman adalah
sebagai pelaku yang mengusung mengisi kemajuan aktivitas kesenian,
dalam kaitan agar seni dan budaya tetap ajek.
Sebagaimana telah diungkapkan di muka, seniman, kesenian beserta
aktivitasnya adalah sebagai ciri atau identitas suatu budaya, dengan
kata lain ia adalah kultur. Sedangkan pemerintah adalah sebagai
pengayom dan memberikan stimulasi pada karya seniman untuk berkarya.
Dengan kata lain ia adalah power. Cag!
Ringkasan lain tentang Potret Buram Seni Sunda Kini