Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Si Kabayan Sebagai Cerita Rakyat

.

Si Kabayan Sebagai Cerita Rakyat

Summary rating: 1 stars 5 Tinjauan
Pengarang : JAKOB SUMARDJO
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 602  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 19, 2008
JAWA Barat kaya akan tradisi kerakyatan, termasuk cerita rakyat.
Meskipun tradisi istana pernah hidup di JAWA Barat, karena mengalami
zaman dua kerajaan besar, yakni Galuh di daerah Ciamis dan Pajajaran di
daerah Bogor, sedikit sekali ditemukan artefak-artefak budaya istana.n tetapi, apabila ditilik lebih dalam, masih akan tampak ciri-ciri kesundaan di kedua kerajaan Islam tersebut.
Bagaimanapun kerajaan-kerajaan Islam tersebut masih berada di
masyarakat sunda sehingga tradisi lokal mendasari kebudayaan di kedua
kerajaan tadi.

Tradisi kerakyatan masih terus hidup di bawah arus budaya-budaya istana yang silih berganti. Ini disebabkan sistem kerajaan-kerajaan di Jawa Barat berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.Kebudayaan istana di Jawa Barat hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat nagara. Di Jawa Barat tidak dikenal adanya negaragung dan mancanegara seperti di Jawa.

Masyarakat istana adalah masyarakat Sunda di negara itu, yakni istana dan wilayah yang benar-benar dikuasainya secara langsung. Seperti kita saksikan bahwa teks-teks tertulis Sunda lama masih disimpan oleh penduduk perkampungan di Jawa Barat.

Selain itu carita-carita pantun yang berisi mitos-mitos istana Sunda masih tersebar di kalangan rakyat perdesaan.
Hanya artefak-artefak istana sudah sulit ditemukan di kalangan rakyat,
misalnya batik istana Sunda, seni ukir istana Sunda, buku-buku
Hindu-Buddha, tata adat istana Sunda, dan seni gamelan, karena
masyarakat istana-istana Sunda itu memang tidak berlanjut sebagai
lembaga sosial.

Pemandangan semacam itu masih terlihat pula ketika di Jawa Barat berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Banten dan Cirebon. Kedua kerajaan itu juga terdiri dari wilayah negara atau negaragung saja. Wilayah mancanegara tidak dikenal. Apalagi bahasa di wilayah negara dan negaragung berbeda dengan bahasa masyarakat perdesaan Sunda.Meskipun dalam cerita-cerita rakyat dikenal nama-nama
dewa dan batara yang kehindu-hinduan, namun tidak dalam pemahaman bahwa
itu berdasarkan agama Hindu-Buddha, tetapi Sunda semata-mata,
Kebudayaan Hindu-Buddha-Sunda itu hanya dikenal di kalangan intelektual
moderennya. Di kalangan rakyat, zaman Hindu itu adalah Sunda.

Lenyapnya ingatan kolektif terhadap kebudayaan Hindu-Sunda, lebih mirip dengan yang terjadi di Sumatra. Di zaman kejawaan Hindu-Buddha di Sumatra dikenal kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Jambi, Melayu, dan Tulang Bawang.Seperti di Sunda, Islam juga tertanam kuat di kalangan rakyat Sumatra.
Kenangan mereka terhadap kejayaan Jambi dan Sriwijaya tidak ada,
kecuali di lingkungan golongan terpelajarnya yang mengenal penggalian
sejarah sarjana-sarjana kolonial. Dewa-dewa
juga dikenal di kalangan rakyat Sumatra, namun tetap harus dibaca
sebagai hal yang bersifat Melayu dan bukan Hindu-Buddha.

Keadaan yang berbeda terjadi di kalangan rakyat Jawa. Di lingkungan rakyat, dan lebih lebih istana, amat kuat kenangan kolektif mereka atas budaya Hindu-Buddha sebelumnya.
Mereka menyebutnya sebagai agomo Buddho (agama Buddha). Hal ini
disebabkan sistem kerajaan sawah mereka yang konsentris sejak awal. Hal
ini pun dipermudah karena masyarakat sawah itu menetap. Kontinuitas budaya rakyat dan istana terus berlangsung, bahkan di kalangan rakyat cenderung berbudaya istana.

Di hadapan nilai-nilai rohaniah-ketuhanan dan
illahiah, Kabayan digambarkan begitu bodohnya sehingga tidak mampu
membedakan antara bayangan dan kenyataan.

Cerita-cerita Si Kabayan bodoh tidak begitu banyak. Kebodohan Kabayan dalam cerita-cerita semacam itu sering keterlaluan. Misalnya Kabayan tak bisa membedakan antara mayat dan manusia hidup, antara bayangan langit dan permukaan tanah di sawah.
Kebodohan Kabayan yang demikian itu ternyata simbolik rohani. Kita ini
bodoh spiritual. Dalam hal ini, Si Kabayan bukan hanya jati diri Sunda,
tetapi jati diri manusia itu sendiri.
Kesundaan Si Kabayan ada pada latar lokalitasnya.
Bahwa dalam masyarakat Sunda cara hidup sehari-harinya semacam itu,
seperti pergi ke sawah, ke huma, ke hutan, pasang perangkap hewan,
kenduri, haji, salat, pohon tertentu, mandi di kali, dan lain-lain.

Ringkasan lain tentang Si Kabayan Sebagai Cerita Rakyat
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------