Secara kontekstual
dengan makna Ilahi,
mereka yang
mengalami perlakuan
tidak adil karena memperjuangkan kebenaran
dan keadilan pun dapat disebut memanggul salib.
Hentikan kekerasan
Dalam negara dengan bangsa yang besar ini,
di saat rakyatnya banyak
yang masih mengagungkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, kita masih
terus menyaksikan berbagai tindak kekejaman antarsesama.Bahkan, kelompok-kelompok tertentu yang mengusung
ide-ide saleh itu justru melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan
dengan kasih kepada sesama.
Bukan berita baru lagi, misalnya, kebrutalan dan kebringasan kelompok
yang menyerang dan menghancurkan kelompok lain yang dianggap tidak
sesuai dengan keyakinannya. Secara moral, semua itu tidak bisa dibenarkan. Keinginan yang baik saja tak bisa menjadi alasan untuk membenarkan cara dan sarana yang buruk.
Di sini kita teringat akan Kitab Suci yang memberitakan tentang Allah
yang toleran kepada segala ciptaan-Nya, terhadap orang-orang jahat
sekalipun.
Penginjil Matius, misalnya, melukiskan Kristus yang mengajarkan Allah
yang "menerbitkan matahari bagi
orang jahat dan orang baik dan
menurunkan hujan bagi orang yang benar dan yang tidak benar" (Matius
5:45).Maknanya, dalam kegalauan dan ketidakberdayaan
menghadapi berbagai bentuk kekerasan sosial-politis-kultural itu, kita
diundang untuk tetap berjuang bersama dengan Allah Pencipta yang telah
membangkitkan Kristus dari alam maut (bdk. 1 Korintus 15:
15,20).
Spirit pengorbanan
Dalam iman Kristen, kisah penyaliban Yesus Kristus bukanlah kisah
konyol tidak bermakna. Penggambaran itu menunjukkan betapa besar dan
berat dosa umat manusia yang disandang untuk ditebus-Nya."Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku berkenan.
Aku telah menaruh roh-Ku ke atasnya supaya ia menyatakan hukum kepada
bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau
memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah
terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak
akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum." Pengalaman Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa menjadi referensi pengalaman manusia sepanjang zaman.
Sikap tegas Yesus yang radikal kepada para penguasa pada masa itu
menyebabkan Ia digolongkan sebagai pemberontak. Mengikuti Yesus secara
total harus berani melawan arus kebanyakan yang berkembang dalam
masyarakat.
Bagi Herodes, Pilatus, Hanas, Kayafas, kehadiran Yesus adalah ancaman
yang bisa menggoyahkan genggaman kekuasaan yang sekian lama memberikan
kenikmatan, kekuasaan, kekayaan, dan dukungan politis.
Optimisme perjuangan
Kematian yang dialami Yesus di kayu salib menumbuhkan pengharapan dalam
diri umat manusia akan masa depan yang adil, damai, dan sejahtera. Dalam peristiwa salib Yesus terdapat paradoks antara
kematian dan pengharapan sebab sejarah tidak menghargai kenangan
terhadap mereka yang membunuh, melainkan yang terbunuh.
Meminjam permenungan Leonardo Boff, sejarah mengagungkan keberanian
orang-orang yang menanggung kematian, yang menanggung penderitaan
orang-orang yang rendah, dan mereka yang melakukan revolusi yang
membebaskan.
Kendatipun mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta
mengusung misi pembebasan akan terus dihukum dan mati disalibkan, namun
cita-cita dan pengharapan mereka tidak akan terkubur bersama dengan
mayat mereka.
Sebaliknya, meskipun tubuh sudah mati dan hancur terkoyak oleh berbagai
ketidakadilan, namun jiwa dan semangat mereka senantiasa menjadi benih
yang mengobarkan semangat juang generasi berikutnya yang peka terhadap
ketidakadilan.
Ringkasan lain tentang Yesus Kristus, Pengorbanan, dan Pengharapan