• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Nama BIM, Kearifan atau Keanehan?

.

Nama BIM, Kearifan atau Keanehan?

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Agusli Taher
Di BIM seminggu yang lalu, saya cukup kerepotan membunuh kejemuan menunggu teman yang pesawatnya terlambat hampir sekitar
1 jam dari Jakarta. Sore itu, tiba-tiba saja ingatan saya menerawang ke bulan Maret 2004, ketika Pemprov Sumbar mengadakan sayembara karya tulis pemberian nama bandar udara internasional Sumatera Barat, yang awalnya disebut Bandara Kataping.
Nama Bandara seringkali mengusung simbol dan tata nilai, karena di balik nama sebuah Bandara terkandung nilai historis, penghormatan dan penghargaan, meskipun di sebagian kecil daerah, nama Bandara tidak memiliki arti apa-apa. Umumnya, penamaan sebuah Bandara, didasarkan kepada nama lokasi di mana Bandara tersebut berada, seperti Narita-Tokyo, atau Tabing-Padang, atau mengambil nama pahlawan, Raja, Presiden, dan lainnya, seperti Bandara Soekarno-Hatta, Sam Ratulangi, King Abdul Aziz, atau nama tokoh seperti Ninoy Aquino di Manila—lawan politik presiden Marcos yang ditembak mati di bandara tersebut.
Juga termasuk nama penerbang, seperti Halim Perdana Kusumah, Iswahyudi, Husein Sastranegara atau Adi Sucipto Belakangan, ada kecenderungan untuk merubah nama Bandara, dari nama lokasi menjadi nama-nama yang memiliki hubungan emosional dalam sejarah perkembangan suatu etnik, terutama dikaitkan dengan nama pahlawan atau tokoh berjasa, seperti Bandara Simpang Tiga-Pakanbaru berubah nama menjadi Bandara Sultan Syarif Kasim, Bandara Palmerah-Jambi menjadi Bandara Sultan Taha; atau Talang Betutu Palembang menjadi Bandara Sultan Mahmud Badarudin II.
Yang mengejutkan, dari penelusuran berbagai referensi juga dapat disimpulkan bahwa hampir tidak ada penamaan sebuah Bandara yang didasarkan kepada nama seorang tokoh panutan yang berasal dari kalangan Ulama atau pemikir Islam, sehingga tidak dijumpai nama seperti Bandara Wali Songo di Jawa, atau Bandara Syech Abdurrauf di Aceh, Bandara Maulana Malik Ibrahim di Jatim, atau Bandara Ibnu Sina dan Bandara Syech Sayyid Quttub di jazirah Arab. Fenomena tidak diperhitungkannya nama tokoh agama oleh dunia Internasional dalam penamaan Bandara, serta dengan pertimbangan bahwa falsafaf Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandi Kitabullah merupakan icon penting dalam kehidupan orang Minang, maka penelusuran penamaan Bandara Kataping Sumatera Barat saya fokuskan dari kalangan agama. Pertimbangan lainnya yang saya patok adalah sedapat mungkin nama yang diunggulkan memiliki keterkaitan histroris dengan lokasi di mana Bandara tersebut berada artinya tokoh tersebut lahir atau pernah hidup disekitar lokasi bandara, sehingga penamaan Bandara di Kataping tersebut mampu mengakomodir 2 acuan dunia dalam penamaan Bandara, yaitu berdasarkan nama tempat dan nama tokoh.
Begitulah, akhirnya saya sampai kepada kesimpulan bahwa pengganti nama Bandara di Kataping yang paling tepat adalah Bandara Syech Burhanuddin, disingkat BSB. Dalam call sign dibaca Bi-Is-Bi. Kenapa Syech Burhanuddin? Dari referensi yang saya baca, ternyata peran dan jasa Syech Burhanudin dalam pengembangan Islam di Minangkabau tidak tertandingi oleh siapapun. Syech Burhanuddin adalah seorang tokoh yang mampu mengembangkan Islam di Minangkabau dalam tempo 41 tahun (1070-1111 Hijrah). Reputasinya mengembangkan agama Islam, bahkan lebih hebat dari penebar-penebar Islam yang berasal dari Arab, Parsi, dan Gujarat yang sudah mulai memperkenalkan Islam sejak tahun 850 Hijrah di Minangkabau.
Keunggulan sebuah nama ini hampir sulit ditandingi oleh semua nama tokoh-tokoh adat, budaya, agama dan cendekiawan manapun di Minangkabau, ataupun yang berada dan hidup di luar Minangkabau. Tiada Nama sekuat Nama Syech Burhanudin yang patut dan amat pantas dipersembahkan kepada sebuah Bandara kebanggaan propinsi Sumatera Barat. Kita tahu bahwa perjuangan dan harapan untuk hadirnya sebuah Bandara bertaraf Internasional di Sumatera Barat sudah melikui perjalanan yang cukup panjang. Meskipun demikian, masih lebih panjang perjalanan Syech Burhanudin untuk menghantarkan Minangkabau sebagai etnik yang akhirnya memiliki falsafah Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandi Kitabullah.
Diterbitkan di: Maret 19, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.