Hari-hari ini,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang bersafari ke Iran, Senegal, Afrika Selatan,
dan Uni Emirat Arab. Lawatan seperti ini tempo hari disembur pedas DPR sebagai buang duit negara. Boleh jadi, kali ini presiden ingin membuktikan safarinya bermakna. Dia memilih sasaran
negara yang amat menjanjikan, bertujuan menarik investor kakap untuk kalau bisa menyelamatkan tekornya cash flow republik.
UEA kini mengembangkan ”mesin perang baru” ekonomi berupa kapitalisme oleh negara yang disebut SWF, Sovereign Wealth Funds atau Lembaga Investasi Pemerintah. SWF umumnya dimiliki pemerintah negara yang berlimpah
uang berkat surplus cadangan devisa, neraca perdagangan, tabungan dan dana pensiun, serta terutama devisa minyak.
Para saudagar itu berkencan dengan IMF dan Bank Dunia, membulan-bulani negara yang sedang krisis seperti Indonesia
di tahun 1997. Dalam sekejap, banyak perusahaan dan bank di Indonesia bangkrut gara-gara tidak melakukan hedging (lindung nilai) atas utang-utang dolarnya. Serangan dahsyat arus kas (cash flow) negara itulah yang menghembalang rezim Soeharto, selain tentu tekanan mahasiswa dan rakyat. Sejak itulah ”kolaborasi kekuatan uang” ini jadi hantu gentayangan siap mencekik negeri rapuh. John Perkins dalam Economic Hit Man (diterbitkan Berrett-Koehler 2004, bertahan 25 minggu dalam daftar buku laris New York Times dan terjual lebih dari 500 ribu kopi) membeberkan kejahatan imperalis
baru itu. Contoh kejahatan korporasi digunakan dalam operasi penggulingan Mosadegh di Iran untuk diganti boneka baru bernama Shah Iran.
Dia menuduh globalisasi -dalam Globalization and its Discontents- hanyalah mengganti peran diktator gaya lama yang dikuasai
Para elite dengan diktator gaya baru, yakni para saudagar uang (tanpa menyebut SWF). Untuk jutaan penduduk dunia, kata Stiglitz, globalisasi tak pernah bermanfaat. Rakyat hanya bisa menatap tanpa daya ketika sumber kehidupan mereka secara terencana dihancurkan dan masa depannya diobrak-abrik.
Jumlah ini melampaui dana yang dikelola seluruh hedge fund sekitar USD 1,5 triliun, meski masih di bawah dana lembaga investasi yang lebih mapan seperti UBS, Barclays Global Investors, dan Allianz Group yang berkekuatan USD 53 triliun. SWF juga mendekonstruksi peta uang. Dulu para hedge fund mengejar-kejar negara berkembang menawarkan duit, sekarang negara berkembanglah yang mengejar negara maju untuk berebut mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang maju maupun yang hampir bangkrut.
Presiden Bank Sentral Eropa Jean Claude Trichet pun mengingatkan, perekonomian global dalam bahaya jika SWF tidak dikelola transparan. Presiden akan ke negara pemilik Abu Dhabi Investment Authority dan bersiap mengetuk pintu brankas "Paman Gober" jagat raya ini. Kabarnya, di sekitar Negara Teluk itu, sejumlah orang sedang bingung mencari tempat mengembangkan peternakan uangnya. Tak ada salahnya kan melawat ke situ, asal tahu saja, Gober juga pelit!
Ringkasan lain tentang Mengetuk Brankas Paman Gober (Lawatan Safari Presiden SBY)