Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > WTN, Musik dan Hak Publik

.

WTN, Musik dan Hak Publik

Pengarang : Seli Naswati
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 26  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 19, 2008
Kota Padang baru-baru ini meraih prestasi sebagai satu-satunya ‘kota besar’ di Indonesia yang menerima penghargaan tertinggi bidang tertib lalu lintas. Namun, Plakat Wahana Tata Nugraha (WTN) yang menjadi ikon penghargaan itu sepertinya tidak berbanding lurus dengan kenyamanan naik kendaraan umum di kota ini. Suatu paradoks memang, ditengah situasi kota yang kaum perempuannya dominan berkerudung (dikarenakan pimpinan kota mengeluarkan himbauan melalui surat edaran agar berbusana muslimah, dan diikuti dengan sukacita), sekilas memperlihatkan wajah kota yang Islami, namun nuansa islami itu harus dicabik-cabik dengan dominasi housemusic berjalan di hampir semua kendaraan umum yang jauh dari gambaran budaya tenang, sejuk dan nyaman.
Sedikit mendeskripsikan suasana angkutan umum di Kota Padang, ibukota provinsi Sumatra Barat, di siang yang terik tampak angkutan kota (angkot) ditingkahi dentuman musik keras yang semakin bikin hangat dan panas suasana. Masyarakat ‘dipaksa’ terbiasa mendengar suara musik tripping yang disetel dengan amat keras di dalam kendaraan umum dengan maksud menarik banyak penumpang. Juga tampak berbagai jenis angkutan kota; bus dan mikrolet itu memajang asesories; boneka-boneka bergelantungan di bagian atap dan jendela kendaraan, pun lampu-lampu kerlap kerlip dan perlengkapan musik dengan sejumlah loudspeaker.
Meski sudah ada protes warga dan pemberitaan di media terkait larangan untuk menyetel musik tripping dengan dentuman keras, serta operasi penertiban yang hangat-hangat tahi ayam dari dinas terkait, tetap saja para sopir ini menyetel suara yang memekakkan telinga tanpa memperdulikan apakah semua penumpang umumnya rakyat badarai yang tak memiliki kendaraan pribadi, setuju atau tidak dengan jenis musik yang diperdengarkan.

Tak diketahui entah sejak kapan mereka menyetel ipod, mungkin sejak hitungan langkah pertama keluar dari rumah, yang pasti benda kecil mirip handsfree yang mengeluarkan musik itu selalu terlihat menempel di saku beserta headset kecil di telinga. Situasi lain yang tampak, sebagian penumpang usai masuk kendaraan langsung membuka buku yang tadi dipegang ditangan atau terselip dibagian luar tas. Tak peduli dengan penumpang di sebelah, mereka asyik membaca entah novel, entah buku pelajaran, atau jenis buku pop lainnya, yang jelas suara yang keluar dari kendaraan hanyalah suara halus deru mesin dan AC, sama sekali tak terdengar hingar bingar dentuman keras musik. Hanya sesekali suara dari loudspeaker yang sudah diatur otomatis memperdengarkan informasi tentang halte yang akan disinggahi berikutnya, sekadar mengingatkan penumpangnya yang lagi asyik dengan buku dan musik yang didengar sendiri, dan atas pilihan sendiri.
Di tempat ketiga, bus transjakarta yang dinaiki penuh sesak penumpang hingga berjubel di koridor berdiri berdempetan seperti sarden dalam kaleng, maklum menaiki bus jalur bebas macet dan berpendingin ini menjadi pilihan hampir semua lapisan masyarakat, meski berjubel antri dan berdiri di koridor bus, karena jumlah bangku yang tak imbang dengan penumpang yang naik.
Semua penumpang mendengarkan musik yang sama, setuju atau tidak, yang pasti gendang telinga ‘dipaksa’ mendengar musik yang seragam, meski ada perasaan suka atau tidak suka. Satu untuk semua tanpa memperdulikan apakah ada diantara penumpang lebih hobi mendengarkan lagu klasik, jazz, blues, keroncong atau dangdut. Bisa dimaklumi semangat gotong royong, kebersamaan dan jiwa korsa sebagai suatu hal yang positif, tapi tidak untuk kasus kebersamaan mendengar bising suara dari kendaraan di hari yang panas terik, yang hanya akan bikin lelah, jauh dari rasa aman dan nyaman dan menurunkan tingkat produktifitas.






Ringkasan lain tentang WTN, Musik dan Hak Publik
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------