Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > FOSIL KULTURAL DI TANGAN GUS TF SAKAI

.

FOSIL KULTURAL DI TANGAN GUS TF SAKAI

Pengarang : Wannofri Samry
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 26  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 18, 2008
Memahami cerpen-cerpen Gus tf Sakai bagi kebayakan pembaca tidaklah mudah. Cerpen-cerpen Gus mengandung banyak dimensi: sosial, psikologis, kultural, dan ada juga unsur politik. Dari 14 cerpen yang dimuat dalam Laba-Laba (Gramedia Pustaka Utama, Juni, 2003), 8 cerpen berlatar budaya yang kuat, sisanya berlatar sosial-psikologis. Namun, apa pun latarnya, tampak ia berbicara mengenai kondisi sosial-budaya kita hari ini dan masa depan. Gaya cerpen Gus yang berdimensi banyak itu adalah sesuatu yang mengasyikkan, dan mungkin juga merupakan cerpen Indonesia paling mengagumkan.
Budaya lokal di tangan Gus tf Sakai menjadi hal yang universal dan milik semua orang. Budaya lokal digunakan Gus sebagai medium, suasana, dan sekaligus mengemukakannya menjadi suatu masalah. Latar budaya digunakan secara baik sehingga memberi kesan kepada pembaca bahwa kita ada "di sana". Fosil-fosil kebudayaan di tangan Gus tf Sakai menjadi realitas baru yang memberikan rangsangan pada pikiran.Aspek kebudayaan yang diangkat dalam cerpen-cerpen ini adalah yang partikular, sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak menarik, bahkan bagi antropolog dan sejarawan sekalipun, tetapi bagi Gus menjadi hidup kembali. Cerpen-cerpen yang delapan itu adalah Kupu-kupu, Nagari, Meminta kepada Tempat yang Terkabul, Berkaul kepada Tempat yang Keramat, Pot Na Enga Tako, Wabah, Lembah Tabbenai, Tuge, dan Lowe Lomo.
Nagari dalam sistem kultural Minangkabau adalah sistem pemerintahan yang otonom, sejenis republik kecil, sedangkan pada masa Orde Baru ia dibagi-bagi sehingga mengacaukan sistem sosio-kultural dan politik Minangkabau. Dalam cerpen ini nagari "dijelmakan" Gus jadi sebatang pohon yang dipertengkarkan dua keluarga. Pohon ini tumbuh di perbatasan tanah, atau dalam istilah Minangkabau disebut sipadan. Pohon itu jadi sumber malapetaka. Mereka bertaruh, bila suatu saat pohon itu tumbang ke tanah suatu keluarga maka keluarga itulah pemiliknya. Di sini Gus menghadirkan persoalan tentang kebudayaan Minangkabau ketika nagari dihancurkan oleh proses sosial politik.
Dalam cerpen Wabah ini Gus sekaligus mempertanyakan realitas budaya, mengenai sikap apriori masyarakat yang tanpa alasan, yang mengakibatkan tekanan psikologis bagi seseorang. Sedangkan Meminta kepada Tempat yang Terkabul, Berkaul kepada Tempat yang Keramat, Gus tf Sakai menunjukkan masalah syirik yang dieksploitasi oleh oknum-oknum tertentu sesuai dengan kepentingan. Di sini pengarang lebih banyak bicara mengenai masalah sekarang, etos kerja, dan suasana sosial masyarakat yang tidak kondusif. Pot Na Enga Tako, menceritakan perdagangan mumi di Toraja, yang menghadapkan tradisi sakral budaya setempat (Toraja) dengan dunia modern dan bisnis. Pada cerpen ini Gus, lewat tokoh Tanete (keluarga Mumi), mengritik upacara kematian yang menghabiskan uang begitu banyak.
Ini bukan berarti cerpen-cerpen di atas tidak berbicara sosial dan psikologis, karena setiap cerpen Gus berdimensi banyak. Ia bisa dengan lancar memindahkan suatu latar ke latar lain, atau dari suatu dimensi ke dimensi lain. Dalam bercerita Gus tf Sakai meninggalkan model alur konvensional, A-Z. Ia seenaknya bolak-balik dari satu waktu ke waktu lain, dan dari satu tokoh ke tokoh lain. Bahkan kita harus sangat teliti membacanya, karena adanya lapisan-lapisan cerita. Masa kini, masa lalu, dan masa datang mendapat tempat yang proporsional dalam cerpen-cerpen Gus.




Ringkasan lain tentang FOSIL KULTURAL DI TANGAN GUS TF SAKAI
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------