Membaca Hamka pada hari ini adalah membaca teks yang hidup, sekarang sudah seratus tahun, teks yang beranak-pinak dan berbiak
dalam pemikiran dan hati dari generasi ke generasi. Teks yang memberikan energi positif, dan merangkai dengan teks-teks lainnya.
Apa yang “ada”, selama seratus tahun ini, itulah teks tafsir Al-Azhar, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, dan buku tentang etika Islam dan tasawuf, termasuk Tasawuf Modern, Lembaga Budi, dan Falsafah Hidup. Di dunia
sastra, Hamka, barangkali ada yang mengatakannya sebagai sastrawan besar, dan ada yang mengatakan tidak, bahkan dia pernah dijuluki Buya Roman, Kiyai Cabul, menurut mereka seorang Ulama tidak pantas menulis roman percintaan walaupun bernafaskan Islam.
Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (Q.S:227). Adapun yang mengatakan dia bukanlah sastrawan besar, salah satunya
adalah Teeuw (1980:107), seorang strukturalis, menvonis bahwa Hamka bukanlah sastrawan besar, walau dengan ukuran apa sekalipun; dari segi psikologi roman-romannya lemah, terlalu bersifat moralis.
Ini hanyalah fakta bahwa karya itu sendiri yang membuktikan bahwa ia sebagai teks memang tidak seperti yang divonis Teeuw. Ada hal yang menarik dari ungkapan Teeuw, bahwa sastra jangan terlalu bersifat moralis, karena hal itu membuat sastra jadi lemah. Agaknya inilah yang membedakan estetika strukturalis (pasca H.B. Jassin, teori dan paradigma ini begitu berkuasa di dunia akademi seni Indonesia) dengan estetika Islami dan dunia timur yang berdasarkan filosofi budi, akhlak.
Adapun Hamka seorang Timur, Islam, dan dengan genealogis Minangkabaunya, maka paradigma estetika baginya tentulah: “nan kuriak kundi, nan merah sago, nan baik budi nan endah baso” (yang kurik kundi yang merah saga, yang baik budi yang indah bahasa). Menulis karya sastra bagi Hamka adalah Ibadah (ritual) sedangkan bagi Teeuw bukanlah ibadah (profan). Bagi Teeuw, moral (budi atau akhlak) adalah titik lemah dan sentimentil dari karya sastra, sedangkan dalam pandangan Hamka adalah titik kuat dan tinggi dalam karya sastra.
Hanya persoalan “lakum dienukum waliadien” dan “la ikraha fiediien”
(terj. bebas; mazhabmu untukmu mazhabku untukku, dan jangan memaksakan paham kita kepada orang lain).Yang akan membawa kita kembali kepada persoalan “dengan takaran apa kita mengukur besar atau kecilnya seorang sastrawan”.