Masyarakat Sumatera Barat dapat dikatakan adalah masyarakat Minangkabau. Sumatera Barat dalam pengertian struktural kepemerintahan sedangkan Minangkabau adalah dalam pengertian kebudayaan.
Dengan demikian bagaimana masyarakat Minangkabau menghadapi bencana. Yakni
Suratkabar Singgalang menyebutkan bahwa puluhan
orang tewas dalam peristiwa gempa bumi itu
dan tak sedikit kerugian materi. Data terakhir menyebutkan bangunan yang
rusak mencapai 3.612 unit. Diantaranya 1.048 rusak berat, 545 rusak sedang dan rusak ringan 2.019 rumah, tersebar hampir
di seluruh daerah. Kedua bencana itu diikuti oleh beberapa kejadian, berupa adanya tulisan Allah di awan (Padek 08-Maret-2007), telinga bayi.
Masyarakat Minangkabau mempunyai filosofi kebudayaan “alam terkembang jadi guru, adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah”. Inilah mind set (pola pikir), blue print (cetak biru), atau paradigma orang-orang Minangkabau dalam menghadapi segala persoalan kehidupan. Dalam hal ini, dengan filosofi kebudayaan demikianlah masyarakat Minangkabau menghadapai tragedi bencana.
pola pikir budaya seperti ini dalam realitas kebudayaan masyarakat Minang cendrung kepada rasional, empiris, religius dan proaktif. Alasan untuk dapat dikatakan cendrung rasional dikarenakan dalam pola kebudayaan selalu mementingkan akal pikiran.
Hal ini dapat ditemukan seringnya dalam realitas budaya ditemukan kosa kata “lai ba-utak”, “lai jalan kincia-kincia”, “lai cadiak”, “kancia”, “ketek-ketek samba lado”, “manga bodo”, “pakak ka ikua”, “indak balubang nan bagiriak”. Kemudian kalimat-kalimat percakapan dalam budaya Minang merupakan kalimat metafor, kalimat metafor merupakan kalamat yang membuat orang berpikir.
Sedangkan sikap proaktif tercermin pada pola hidup
mereka merantau, keteka di kampung mereka tidak mendapatkan apa-apa (mereka menyebut dalam pepatah mereka “indak ka manggadang aia do”) maka mereka proaktif untuk merentau. Terkenal dengan patun mereka; “karatau madang di hulu, babuah babungo balun, merantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun”. Dengan demikian masyarakat Minang menghadapi bencana alam dengan pola pikir rasional, empiris, religius dan proaktif. Hal ini terbukti dengan reaksi para tokoh-tokoh masyarakat Minangkabau dalam pernyataan mereka di media massa….
Ringkasan lain tentang Sikap Budaya Orang Minangkabau