• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Menerima Hadiah Khatulistiwa Rp100 Juta

.

Menerima Hadiah Khatulistiwa Rp100 Juta

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Syofiardi Bachyul Jb
“Ekspos terhadap pengarang dan bukan terhadap karyanya
semakin menjauhkan masyarakat dari karya sastra… banyak orang
yang
kenal dengan sosok pengarang atau sastrawan, tapi mereka tak pernah
membaca karyanya.”
Alasan itu meluncur dari mulut Gus tf Sakai ketika ditanya
keengganannya diwawancarai.“Saya tidak enak dengan wartawan lainnya yang pernah saya tolak….”
Ekspos pers terhadap sosok sastrawan, kata Gus, tak banyak membantu masyarakat untuk banyak membaca karya sastra.
“Sastrawan menjadi ‘seleb’ (selebriti), seperti artis, ia terkenal
karena hal-hal yang ia lakukan di luar karyanya, orang seakan sudah
mengenalnya, padahal mereka tidak pernah membaca karyanya, akibatnya
sastra tetap terpinggirkan, jauh dari masyarakat,” tambahnya.
Hal seperti ini, kata Gus, ditambah dengan minimnya media massa di
Indonesia memuat tulisan-tulisan yang berisi pembahasan terhadap karya
sastra. Wartawan lebih cenderung memuat profil sastrawan dengan penonjolan pertanyaan-pertanyaan yang remeh dan di luar konteks sastra.
Setelah beberapa kali menjadi nomine di tahun-tahun
sebelumnya dan akhirnya kandas, Gus tak berharap banyak dan tak yakin
bisa menang.
Ketika kumpulan cerpennya dinyatakan menang dan mengalahkan empat prosa
nomine lainnya, Zen Hae, sahabatnya yang juga nominee kategori puisi
yang dititipinya kata sambutan pendek, kemudian membacakannya.
Pada pidato itu Gus menyebutkan bahwa ada dua kemungkinan penyebab
kemenangannya. Pertama, kemungkinan tabulasi atau penjumlahan angka
dari masing-masing juri salah. Kedua, karena ia betul-betul tengah
beruntung.
“Saya pesimis bisa menang dengan sistem penjurian Khatulistiwa seperti
sebelumnya, dimana jurinya diambil banyak orang dari berbagai latar
belakang, sebab kenyataan saat ini di Indonesia ’banyak orang’ bukanlah
pembaca karya sastra, mekanisme penilaian seperti ini sangat
memungkinkan karya sastra yang buruk terpilih sebagai pemenang, dan
karya sastra yang bagus luput dari pantauan para juri,“ kata Gus.
Karena itu dengan mengambil juri bukan dari kalangan
kritikus sastra atau sastrawan terpilih, kemungkinan sastrawan yang
sering diekspose media akan mendapat perhatian lebih oleh juri sangat
besar.
Gus mengisahkan seorang temannya ahli dan kritikus sastra yang membaca
karya sastra hanya bila kebetulan dikirimi buku sastra oleh penulisnya.
Selebihnya ia mengikuti karya sastra hanya dari timbangan buku,
resensi-resensi yang lebih berlatar iklan, dan dari sering-tidaknya si
penulis karya sastra nampang, muncul diberitakan di koran.
“Saya tidak menyalahkan sistem penjurian yang melibatkan banyak orang,
tapi dengan juri-juri seperti ini jelas ada kemungkinan karya sastra
yang bagus bisa lolos dari pantauan mereka,” katanya.Ia juga tak kunjung absen mengikuti berbagai lomba
prosa yang diselenggarakan majalah-majalah tersebut yang seringkali
dimenanginya.
Sejak itu, Gus dengan konsisten menggunakan dua nama, Gus tf untuk
karya puisi dan Gus tf Sakai untuk prosa. “Sakai” adalah gelarnya saat
perpeloncoan ketika baru masuk kuliah.
Agar fokus menulis itulah, Gus yang meraih gelar sarjana pertanian pada
1994 memilih tidak menggunakan gelar kesarjanaannya.
Bahkan, istrinya, Zurniati, yang juga sarjana pertanian di alamamater
yang sama yang dinikahinya ketika masih kuliah pada 1990, juga memilih
menjadi ibu rumah tangga.
Sejak 1996 Gus dan Zurniati memilih kembali menetap di Payakumbuh.
Kini mereka dikarunia tiga anak, sulung laki-laki Abyad Barokah Bodi,
dan dua perempuan Khanza Jamalina Bodi, dan si bungsu Kuntum Faiha Bodi
yang masih di duduk di bangku kelas V.
Selain penghargaan bergengsi SEA Write Award dari
Kerajaan Thailand pada 2004, juga Penghargaan Sastra Lontar dari
Yayasan Lontar pada 2001, dan Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari
Pusat Bahasa pada 2001. Buku ini kemudian diterjemahkan The Lontar Foundation ke bahasa Inggris dengan judul The Barber (2002).
Penghargaan yang diterima Gus tak hanya itu, tapi juga Sih Award dari
Jurnal Puisi untuk puisi Susi, 2000 M pada 2002, Anugerah Sastra dari
Fakultas Sastra Universitas Andalas pada 2002, dan Anugerah Seni dari
Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat pada
2004.Orang-orang yang dekat dengan dunia intelektual pun banyak yang tidak membaca karyanya.
Kalaupun ada yang tahu, Gus sedikit mengeluh ada yang salah menyebut judul bukunya, bahkan menyebut namanya. Seperti sedikit mengeluh mengenai label dan trend yang dipaksakan ke dalam karya sastra. Sastra kelamin, sastra wangi, sastra sejarah, sastra Islam….
“Meski kepada saya penerbit tidak pernah berpesan, tapi banyak
pengarang yang dipesan untuk mengikuti tren itu, penerbit itu akan
bilang, eh, yang laku itu yang ini loh, jadi mereka mungkin tidak
meminta si pengarangnya menulis, tetapi karena pengarang ingin karyanya
terbit, dia bikin sesuai dengan yang diinginkan penerbit,” kata Gus.
Pahit-getir memilih total hidup dari menulis selama 23 tahun tentu
telah dirasakan Gus. Meski begitu, ia adalah manusia sistematis dalam
bekerja dan tak pernah mengeluh. Seperti kata dan kalimat dalam karyanya yang pilihan, kehidupan yang ia tempuh pun pilihan.
Jawaban yang mudah-mudahan memancing Anda untuk membaca karya Gus tf atau Gus tf Sakai dan sastrawan lainnya.
Diterbitkan di: Maret 17, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.