Kesetiaan Seorang Perajin Ukiran Rumah Gadang
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
69
kata:
900
Diterbitkan di: Maret 17, 2008
CHAN Umar, laki-laki 43 tahun, asyik mencongkel-congkel selembar papan yang diletakkan di atas meja kerjanya dengan pahat.
Sesekali tangan kanannya meraih tukul (penokok) kayu yang terletak di
atas papan untuk memukul pahat, melubangi papan sesuai motif.
Terkadang ia mengganti jenis pahat yang lebih selusin tergeletak di
depannya. Perlahan namun pasti, selembar papan dari kayu surian yang sudah diketam itu berubah menjadi ukiran khas Minang di tangan Umar.n sehari-hari Chan Umar, pemilik bengkel “Ukiran Chan Umar” di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar.
Pandai Sikek adalah daerah yang terkenal di Sumatra Barat sebagai
sentra kerajinan tradisional songket dan ukiran khas Minangkabau.
Meski daerah ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Tanah Datar tetapi
Pandai Sikek lebih dekat, hanya 20 km dari Kota Padangpanjang menuju
Bukittinggi.
Pilihan Hidup
Di Pandai Sikek ada 6 bengkel ukiran tradisional dan Chan Umar dengan bengkelnya merupakan yang paling menonjol.Konon, menurut Chan Umar, Pandai Sikek sendiri
memperoleh nama dari kepandaian Si Ikek mengukir interior dan eksterior
rumah gadang. Si Ikek adalah seorang lelaki di daerah itu pada zaman dulu yang sangat mahir mengukir di atas kayu.
Pandai Sikek sebagai sentra kerajinan ukir Minang yang banyak digunakan
untuk ukiran Rumah Gadang (rumah adat Minangkabau) dan kerajinan
songket yang sudah ada sejak zaman dulu hingga era Kolonial Belanda,
sempat terhenti di zaman Penjajahan Jepang (1942-1945).
Kondisi ini terus berlanjut sampai 1960-an.
Agresi Belanda Kedua, dan kekacauan politik dalam negeri, dari tragedi
PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) hingga pertentangan
dengan Partai Komunisme Indonesia (PKI), membuat suasana mengukir dan
bertenun di Pandai Sikek benar-benar terhenti.Bahkan sebagian besar untuk rumah gadang yang dibangun pemerintah, seperti museum dan renovasi rumah gadang bersejarah.
Di antaranya rumah gadang Museum Adityawarman di Padang, rumah gadang
Museum Kebun Binatang Bukittinggi, dan Istana Pagaruyung di Batusangkar.
“Namun setelah itu hampir tidak ada lagi proyek pemerintah dan pesanan
ukiran rumah gadang, kecuali pesanan rumah gadang di beberapa tempat
seperti di Nagari Sulit Air, Solok yang dibuat beberapa orang
perantau,” kata Umar.
“Beberapa perantau Minang yang kaya tetap ada yang
merenovasi rumah adat lama mereka yang rusak dengan yang baru, atau
membuat rumah di kampung bergaya rumah adat dan sanggup mengeluarkan
uang Rp400 juta untuk ukirannya untuk interior dan eksteriornya,”
ujarnya. Sama dengan Motif Songket
Chan Umar menetapkan harga ukirannya Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per
meter bujur sangkar. Mahal-murahnya ukiran tergantung besar, kecil, dan
rumitnya motif yang dipesan. Kayu yang digunakan adalah surian, kualitasnya sedikit di bawah jati, yang banyak terdapat di hutan Sumatra Barat. Sedikitnya Chan Umar membutuh dalam satu hari 5 kubik surian.
Meski di Sumatra Barat sentra kerajinan ukir tradisional Minangkabau
tak hanya terdapat di Pandai Sikek, juga di Candung (Agam), Cupak
(Solok), dan Lintau (Tanah Datar), namun Pandai Sikek jauh lebih
berkembang, dan Chan Umar merupakan pengukir terkemuka. Keunggulan produk yang dihasilkan Umar adalah hasil dari kecermatannya menorehkan motif dan menentukan warna.
Pengerjaan kedua seni kerajinan ini di bawah kolong
rumah gadang pada masa lalu membuat motif saling mempengaruhi dan
umumnya serupa.
Diperkirakaan ada 200 motif tradisional untuk ukiran, namun yang sering
dipakai hanya sekitar 20-an. Masing-masingnya memiliki filosofi
sendiri. Misalnya motif ‘itiak pulang patang’ (itik pulang sore)
memiliki filofosi masyarakat Minangkabau akan teringat dengan kampung
halamannya dan selalu seiya-sekatu (bersatu).
Chan Umar sangat optimistis kepandaian kerajinan ukir yang dimilikinya
dan orang-orang di Pandai Sikek akan selalu menjadi andalan
perekonomian di daerah itu.
Meski di Pandai Sikek 70 persen mata pencarian penduduk adalah di
sektor pertanian dan 30 persen di sektor kerajinan (tenun dan ukir),
namun karajinan telah membuka banyak lapangan pekerjaan.“Biasanya seorang perajin hanya mampu bertahan selama 15 tahun, setelah
berkeluarga dan kebutuhan ekonomi bertambah, ia mencari usaha lain,
kebanyakan tak lagi mengukir,” katanya.
Karena itu, selain Chan Umar, para pengukir umumnya berusia di bawah 40
tahun. Meski begitu, tangan-tangan terampil mereka tak pernah berhenti
menorehkan motif khas minang di selembar kayu untuk sebuah ornamen seni
yang enak dipandang mata dari generasi ke generasi.