Di zaman serba pabrikasi seperti sekarang, termasuk
dalam pembuatan kain untuk pakaian, pasti banyak orang yang tidak
percaya bahwa pembuatan kain dengan menggunakan keterampilan tangan
dan alat sederhana dalam menenun masih ada dan
tetap berkembang sampai saat
ini.
Tetapi tidak begitu halnya
Di Pandai Sikek, sebuah nagari (setingkat
desa) di Kabupaten Tanah Datar yang terletak di kaki Gunung Singgalang,
di kiri jalan raya 10 km menjelang Bukittinggi dari Padang.
Di Pandai Sikek yang udaranya dingin itu, saat ini terdapat 27
pengusaha
tenun (sering disebut songket atau
tenunan yang bersulam
benang emas atau perak) dengan 857 penenun yang umumnya perempuan muda.Dari ketiga itu, hanya Pandai Sikeklah yang lebih maju
dalam melanjutkan tradisi menenun dengan tetap mewariskan kemahiran
menenun kepada warganya, sehingga banyak penduduknya tetap menjadi
penenun.
Selain itu, tenunan songketnya pun memiliki kehalusan dan keberagaman
motif yang jauh lebih tinggi dan banyak, mendekati aslinya yang
merupakan warisan budaya ratusan tahun silam.
Jenis motif tenunan songket Pandai Sikek yang jumlah lebih 200 itu,
rata-rata memiliki arti yang berkaitan dengan filosofi adat
Minangkabau, seperti motif pinggir “itiak pulang patang” (itik pulang
petang) yang mengiaskan orang Minang seiya-sekata atau bersatu.
gresi Belanda II, dan kekacauan politik dalam negeri,
dari tragedi PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) yang
berpusat di Bukittinggi yang berujung perang saudara hingga
pertentangan dengan Partai Komunisme Indonesia (PKI), membuat suasana
bertenun warga Pandai Sikek benar-benar terhenti.
“Sudah tradisi kami setiap anak gadis di Pandai Sikek wajib diajarkan
bertenun, tetapi kondisi sejak Jepang masuk sampai tahun 1960-an
menyebabkan transfer keterampilan itu terhenti,” kata Hajah Sanuar yang
akrab dipanggil “Nenek” yang kini berusia 80 tahun.Ramli yang berlatar belakang pengukir dan pelukis
serta pernah berguru kepada pelukis Wakidi, membuka workshop ukiran
tradisional minang untuk rumah gadang sekaligus
menghidupkan usaha
tenunan songket dengan dibantu Sanuar.
Usaha kerajinan ukiran Ramli berkembang setelah pada 1970 mendapat
proyek dari Gubernur Sumatra Barat waktu itu, Kaharuddin Datuk Rangkayo
Basa, untuk pembuatan ukiran sejumlah perkantoran pemerintah yang
beratap gonjong mirip rumah gadang. Ia mempekerjakan sekitar 100
pengukir.
Setelah proyek selesai, Ramli dan Sanuar fokus kepada usaha tenunan
songket.
Galeri dan workshopnya di rumah gadang yang penuh ukiran bernama “Rumah
Tenun Pusako” menjadi penggerak munculnya puluhan pengusaha
tenunan-songket di Pandai Sikek dan menyerap ratusan tenaga kerja. Meski ia telah lama tidak ikut menenun, ia sendiri
masih mengurus pembelian benang emas buatan India dan benang sutra yang
diantarkan pedagang lokal dan memeriksa hasil tenunan. Dengan
dibantu putra sulungnya, Ardyan Anwar, 47 tahun, ia bahkan masih
melayani pembeli dan pesanan dari luar daerah.
Sanuar masih memiliki obsesi untuk meniru motif tenunan songket lama
Minangkabau yang berumur 200 bahkan sampai 300 tahun yang sekarang
sekitar 20 helai dikoleksinya. Meski cahaya tenunan songket lama ini
sudah memudar, tapi kehalusan dan kemewahan masih terlihat pada
motifnya.
“Tenunan lama ini tidak saja warisan dari Pandai Sikek, bahkan ada yang
diantarkan pemiliknya dari Silungkang dan Batusangkar yang konon ada
yang dipakai raja Pagaruyung zaman dulu yang diminta untuk kami tiru,
meski di daerah mereka dulunya juga ada penenun tapi tidak ada lagi
yang mempu mengerjakan tenunan serumit ini,” kata ibu tiga anak itu.Selempang Wisuda di Amerika
Meski beberapa pengusaha sulaman bordir Pandai Sikek ada yang berusaha
di luar Pandai Sikek seperti di Padang dan Jakarta serta mengajarkan
kepandaian bertenun kepada orang lain, tapi Sanuar masih tetap memegang
erat tradisi nenek moyangnya, melarang mengajarkan kepandaian tenun
kepada orang luar Pandai Sikek.
“Ini sudah tradisi di Pandai Sikek agar kemahiran menenun tetap
diwariskan kepada anak-cucu kami sendiri dan kami dari awal berusaha
tetap mempertahankan tradisi membuka usaha di Pandai Sikek dan
pembelilah yang datang ke sini agar perekonomian Pandai Sikek bisa
maju,” ujarnya.
“Sekarang saya tidak lagi khawatir tenunan songket
Pandai Sikek akan tenggelam seperti zaman Jepang dulu, sebab dengan
majunya usaha tenunan di sini, anak-anak muda menjadi bersemangat untuk
bekerja sebagai perajin, dan penenun yang piawai untuk mengerjakan
motif rumit tetap muncul di antara mereka, tidak seperti daerah lain
yang lama-lama hilang.” katanya.
Ringkasan lain tentang Menghidupkan Kembali Tenun Pandai Sikek