Meski sudah berumur lebih 80 tahun, aktivitas Rosma
tak banyak berkurang mengelola bisnis kerajinan
sulaman-bordir
miliknya
dan mengajar puluhan remaja putri agar terampil menyulam dan membordir.
Ia mengaku masih bisa melihat dengan jelas hasil pekerjaan yang tidak betul, juga melihat hasil kerja yang bagus.
“Kasihan saya ke anak-anak kalau hasil kerjanya tidak betul, sedikit
saja salah hati saya tidak bisa menerima, setiap yang saya ajarkan
harus betul, saya selalu sampaikan ke anak-anak kalau belajar di sini
harus betul-betul pandai, sebab mereka sudah membuang waktu, tenaga,
dan biaya,” kata Rosma.“Saya tidak ingat lagi sudah berapa orang yang pernah
belajar di sini, saya tidak mencatatnya, tapi sudah ribuan orang,
bahkan di antaranya ada yang sudah jadi pengusaha kerajinan
sulaman-bordir juga,” ujarnya.
Ketika berkunjung ke rumah Rosma yang juga sekaligus tempat usahanya
dengan nama “Sulaman Hj. Rosma” yang terletak tak jauh dari pinggir
jalan raya 10,5 km dari Bukittinggi menuju Payakumbuh, ada 59 siswi
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Keputrian sedang PKL (Praktek Kerja
Lapangan) di sana. Mereka datang dari Padang, Jambi, Pekanbaru, dan
kota lainnya di Sumatera.
Mulai dari menjahit garis, kemudian lingkaran,
bermacam-macam sugi (motif pinggir), kemudian yang terakhir menjahit
lukisan yang umumnya berbentuk bunga aneka warna di atas kain. Rosma tak hanya mengajarkan kerajinan bordir dengan menggunakan mesin jahit, tetapi juga sulaman dengan menggunakan tangan.
“Tapi dalam mengajarkan kerajinan sulaman-bordir ke anak-anak tidak
bisa hanya sekadar transfer kepandaian menjahit, kalau hanya
mengajarkan cara membordir atau menyulam maksud saya tidak akan sampai
untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap pekerjaan, jadi harus diajarkan
seninya, yaitu menanamkan rasa cinta kepada sulaman-bordir, itu yang
saya lakukan di sini, bagaimana anak-anak mencintai sulaman-bordir…
saya bina mereka dan saya puji hasil kerja mereka yang bagus,” ujarnya.
Berbeda dengan pengusaha kerajinan lain yang hampir
tidak ada yang bersedia mengajarkan keterampilan yang mereka gunakan
untuk produk mereka, Rosma malah membagi-bagi ilmu kepada banyak orang.
“Pengusaha kerajinan lain banyak yang heran dan menyalahkan saya, tapi
bagi saya nggak ada sifat menyimpan kepandaian, mungkin karena saya
seorang guru, saya juga tidak takut usaha saya jatuh karenanya, sebab
dengan mengajar orang lain saya juga akan berusaha lebih maju,” ujar
Rosma yang sekarang dibantu putra sulungnya, Eddy D. Iskandar Datuak Mangiang menjalankan usahanya.
Penyebabnya adalah orang tuanya memerlukan biaya yang
cukup besar menyekolahkan ketiga anaknya, karena dua kakak laki-laki
Rosma saat itu juga sedang sekolah di Bogor dan Bandung.
“Waktu itu saya kekurangan BH (bra), saputangan, dan perlengkapan
lainnya, padahal waktu itu teman-teman pada memilikinya, akhirnya saya
memungut kain-kain sisa guntingan baju seragam sekolah di tong sampah
yang akan dibakar, lalu jahit sendiri dan saya bordir pinggirnya, modal
menjahit saya hanya pelajaran menjahit yang diberikan di MNS dua jam
seminggu,” kenang Rosma.
Besok Idul Fitri, gaji kami berdua tidak cukup untuk
makan, uang untuk upah jahit baju lebaran yang sekaligus untuk baju
sekolah ketiga anak kami kurang, padahal saya mesti beli bahan makanan,
akhirnya saya membawa alas meja simpanan hasil sulaman saya sendiri dan
saya jual ke teman yang pedagang di Bukittinggi,” kenang Rosma.
Hasil sulaman Rosma ternyata membuat pedagang terkagum dan berebut
membeli dan Rosma pulang membawa uang lebih. Bahkan pedagang itu juga
meminta agar Rosma membuat sulaman lainnya. Melihat keketerampilannya
menyulam bisa dijadikan mata pencarian dan disokong suaminya, akhirnya
Rosma terus menyulam.Setiap hari bus biro travel singgah dan para
wisatawan, tak hanya dari Malaysia, Brunai, dan Singapura, tapi juga
Jepang, Eropa, Amerika, dan Australia.
Produknya mulai dari kebaya, selendang, seprai pengantin, alas meja,
hingga mukena, tatakan gelas, dan gambar dinding dengan kisaran harga
dari Rp10 ribu hingga Rp4 juta.
Dengan hanya mengandalkan wisatawan yang datang ke galerinya, dalam
satu bulan pada musim libur Rosma bisa beromset sekitar Rp90 juta.
“Pernah ada turis perempuan Belanda yang membeli kebaya yang katanya
untuk dipakai pesta di negerinya sebagai tanda pernah ke Indonesia,”
ujar perempuan yang biografinya diterbitkan dalam buku Hj. Rosma & Nukilan Bordir Sumatera Barat, Bigraf Yogyakarta dan Citra Budaya Indonesia, Padang pada 1997 ini