Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Menghidupkan Kembali Batik Tanah Liek

.

Menghidupkan Kembali Batik Tanah Liek

Summary rating: 3 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Syofiardi Bachyul Jb
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 69  kata: 900   Diterbitkan di: Maret 17, 2008
Suatu hari pada 1993, Wirda Hanim yang sudah lama
tinggal di Kota Padang mengikuti pesta adat di kampung asalnya,
Kenagarian Sumani, Kabupaten Tanah Datar.

ia melihat beberapa pria dan wanita memakai selendang batik tanah liat yang dalam bahasa Minang disebut “batik tanah liek”.Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang.

Meski begitu, ia sangat awam tentang kerajinan batik, termasuk batik tanah liat.
Namun ia tidak patah semangat.
Ia menemui guru batik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR, sekarang
Sekolah Menengak Kejuruan atau SMK) dan meminta membantunya melakukan
eksperimen, meniru batik tanah liek dengan bahan sintetis. Meski guru
tersebut hanya menyuruh beberapa siswanya, Wirda tetap membiayai mereka
untuk membeli kain dan obat-obatan membatik. Namun hasil para siswa ini
tidak memuaskannya.
“Sambil menunggu jalan keluarnya, saya tetap mencari dan meniru
motif-motif dari kain batik tanah liek kuno di kampung saya, motif kuno
tersebut adalah kuda laut dan burung hong, di samping saya juga
mengambil motif minang dari ukiran dan pakaian, serta membuat
motif-motif baru yang sebagian perpaduan dari motif-motif itu,” katanya. Hanya beberapa hari di Yogyakarta karena tak bisa
meninggalkan usaha bordirnya di Padang, Wirda meminta Dewan Batik
Yogyakarta mengirimkan seorang pengajar batik ke Padang yang
dikontraknya tiga bulan.
Sebelum pengajar batik ini dikirim ke Padang, Wirda menyuruhnya
terlebih dulu membuat tiruan batik tanah liek dari contoh batik kuno
yang ia bawa. Setelah batik itu selesai, pengajar batik tersebut bersama seorang muda yang dibawanya datang ke Padang dengan dibiayai Wirda.
“Sampai di Padang ternyata ternyata kain batik yang dibuat Bapak
tersebut tidak seperti contoh yang saya harapkan, saya kecewa sekali,
bahkan setelah dua setengah bulan ia bekerja dengan saya di Padang, tak
satu lembar pun yang berhasil sesuai dengan warna batik tanah liek yang
saya inginkan,” kenang Wirda.

Ia melakukan uji coba sendiri dengan warna-warna kimia
untuk batik, mencari warna yang sesuai dengan batik tanah liek yang
warnanya mirip tanah.
“Saya mencoba ke sepuluh lembar kain yang ukurannya masing-masing dua
meter, akhirnya saya mendapatkan warna batik tanah liek, meski dari
sepuluh lembar hanya dua lembar yang bagus,” katanya. Mengambil Tanah
Payau Dekat Rumah
Selama melakukan eksperimen Wirda tetap menggaji lima karyawannya
khusus batik. Sejak itu ia mulai memproduksi batik tanah liek dari
bahan sintetis. Untuk pemasaran ia mengaku banyak mendapat batuan dari
Zuraida Hasan Basri Durin, istri Hasan Basri Durin, Gubernur Sumatera
Barat waktu itu.
Akhirnya ia berhasil memproduksi batik tanah liek yang
berbahan tanah liat seperti batik aslinya yang ia temui di kampung
halamannya di Sumani.
Kini untuk batik berbahan alami, ia tak hanya memakai tanah liat
sebagai bahan baku, tetapi juga gambir, kulit rambutan, kulit jengkol,
dan kulit bawang.
Di rumahnya yang besar berlantai dua yang sekaligus tempat usaha yang
sekarang bernama “Citra Monalisa”, 15 karyawannya menghasilkan satu
kodi batik tanah liek alami dalam sebulan.
Untuk pembuatan batik tanah liek berbahan benar-benar tanah liat
ditambah dengan bahan alami lainnya, hanya ada di Citra Monalisa.
Di Sumatera Barat ada tiga usaha kerajinan batik tanah liek, tapi yang
lainnya masih memproduksi batik tanah liek dari bahan sintetis.

Sebelum membuat batik tanah liek, ia memulai usaha
dengan kerajinan bordir pada 1986 dengan seorang karyawan dan sebuah
mesin jahit.
Usahanya berkembang dan beberapa tahun kemudian ia sudah memiliki 30
mesin jahit dengan lebih 30 karyawan. Bidang usahanya pun bertambah
dengan kerajinan sulaman tangan.
Wirda dan hasil produknya juga sering diikutkan pemerintah daerah
melakukan pameran ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Brunei
Darussalam, dan Belanda.
Kini ia memiliki 50 orang karyawan yang sebagian besar adalah anak-anak
putus sekolah dari berbagai daerah di Sumatera Barat, termasuk seorang
tenaga ahli dari Pekalongan yang bertugas meramu bahan dasar pewarna
alami untuk batik tanah liek. Meski begitu, hanya 20 orang karyawannya
yang bekerja di tempat usahanya, selebihnya dibawa ke rumah
masing-masing.
Para karyawan ini tak hanya mengerjakan batik tulis tanah liek, tetapi
juga batik tulis sintetis, batik cap, menyulam, dan membordir.

Ringkasan lain tentang Menghidupkan Kembali Batik Tanah Liek
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------