.

Taliban

Pengarang : Goenawan Mohamad
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 17  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 17, 2008
Di zaman Yunani, Di masa Romawi, di kancah orang
Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu, di pelbagai adat istiadat dari Kutub
Utara sampai dengan New Guinea, tampaknya wacana yang berlaku adalah,
untuk memakai kata-kata Hamlet di pentas Shakespeare, “Kelemahan,
namamu adalah perempuan!”
Kini kita mampu untuk bertanya: kenapa ketidakadilan yang merendahkan
perempuan itu diteruskan, dan tak jarang dikukuhkan, oleh agama-agama?Ketika pekan lalu saya mendengarkan ceramah yang
memikat yang diberikan di Teater Utan Kayu oleh Dr. Nasaruddin Umar,
guru besar di IAIN Syarif Hidayatullah, tentang “bias gender dalam
penafsiran Al-Quran,” saya kira-kira mendapatkan secercah jawab: Tuhan,
diwakili oleh sehimpun sabda, adalah selamanya Tuhan-dalam-bahasa. ila bahasa itu, sebagai bagian dari kebudayaan,
mengunggulkan laki-laki di atas perempuan—seperti tampak dalam struktur
dan kosakata bahasa Arab dan bahasa Ibrani—pesan yang disampaikan tak
akan bisa bersih dari ketimpangan itu. Atau,
seperti tampak dalam Al-Quran, wahyu itu bekerja dalam sebuah paradoks:
ada “semangat” membebaskan wanita dari ketidakadilan, namun sekaligus
“semangat” itu menemukan tubuhnya dalam sebuah tutur yang, untuk
mengutip Nasaruddin Umar, “memojokkan kaum perempuan.”
Bahasa memang bukan sebuah lorong bersih, bukan sebuah garis lurus yang
bisa sepenuhnya dikuasai si pengguna.
Bahasa adalah sebuah rimba yang menakjubkan, tapi di dalamnya terdapat
untaian akar mimang yang sering membuat pengertian sesat. Maurice Blanchot bahkan berbicara tentang l’entretien
infini, “percakapan yang tak terlarai”: percakapan sebagai entretien,
yang “tergantung di antara dua titik yang tak
membentuk sebuah sistem, sebuah kosmos, sebuah totalitas.” Dalam
pandangan ini, percakapan antara A dan B tak akan melebur B ke dalam A,
dan begitu juga sebaliknya. Entre itu ibarat
sebuah lurah yang dalam, sebuah “jarak yang tak bisa direduksi.”
Percakapan itu bukan dialog yang menuju ke arah sebuah simetri. Apalagi untuk sebuah bahasa seperti yang dipakai dalam
Al-Quran: di sini, “sejumlah ayat,” kata Nasaruddin Umar, “dimungkinkan
untuk ditulis dan dibaca lebih dari satu macam.”
Tapi keadaan “lebih dari satu macam” itu memang menimbulkan problem. Tuhan-dalam-bahasa juga berarti Tuhan-dalam-sejarah.
Mau tak mau ada ketegangan ketika Yang Tunggal dan Mutlak terkait
dengan dunia, dengan realitas yang “lebih dari satu macam” dan
berubah-ubah. Tak ayal, ada selalu rasa cemas
yang ingin meneguhkan yang tunggal-dan-mutlak, tapi pada saat yang sama
ada keniscayaan hidup yang nisbi, beragam, dan terbatas. Dulu, manusia mencoba mencari satu bentuk perwasitan dengan merekam
sabda Tuhan di dalam satu dokumen, sebagai pelindung dari penjajahan
tafsir yang semena-mena. Maka sabda pun jadi kitab, dan kitab jadi
sumber wewenang. Tapi bukannya tanpa risiko. Justru ketika dia
dinobatkan jadi wewenang kukuh yang lurus selurus Yang Mahabenar, sang
kitab berhenti menggugah hati. Di saat itu manusia pun kehilangan
“percakapan yang tak terlarai.”

Ringkasan lain tentang Taliban
Taliban   oleh  Goenawan Mohamad    2008 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------