“Buruh” memang
bukan sebuah kata asing, tapi saya
jarang bisa mengerti apa yang khas dari
orang-orang yang dihisap
tenaganya ini.
Sebab,
buruh yang saya ketahui di waktu saya kecil
bukan mereka yang
tergambar dalam Ibunda Maxim Gorki yang saya baca semasa remaja. Di sekitar saya tak ada pabrik dengan cerobong berasap yang tinggi dan peluit tanda kerja yang membentak-bentak hari.
Yang saya kenal adalah nelayan-nelayan yang bekerja buat perahu para
juragan?sejumlah lelaki berpakaian gelap yang tiap malam menyanyikan
lagu erotik sambil mendayung perahu menuju laut.Atau, yang paling dekat dengan mesin-mesin, pekerja
bengkel yang berlumur minyak pelumas dan tukang las yang melindungi
matanya dari pijar. Ada juga para pengolah
tembakau dan pelinting rokok di sebuah perusahaan sigaret yang terselip
di sebuah gang: tapi saya mengenal mereka hanya ketika mereka, setelah
jam enam sore, bergilir membacakan cerita Sam Pek Eng Tay dalam bahasa
Jawa yang mengharukan.
Marxisme memang bisa menyadarkan kita: ia mengajarkan
tentang penghisapan yang terjadi, karena “nilai-lebih” yang tak
dihargai, karena dusta yang disebarluaskan tentang bagusnya masyarakat
yang akur dan selaras. Charles Frankel pernah mengatakan bahwa bukan Marxisme
yang meciptakan orang-orang radikal, melainkan setiap generasi orang
radikal yang menciptakan Marx-nya sendiri.
Itu sebabnya amarah dan gagasan yang menghendaki sebuah dunia yang
berubah sampai ke akar yang terdalam, punya sesuatu yang bisa mirip
dengan semangat keagamaan. Yang kedua menunjukkan kesediaan mengabdikan diri pada tujuan yang absolut. Yang pertama lebih pragmatis; ia juga bersedia berkawan kembali dengan sang lawan di medan pergulatan. Yang kedua melahirkan orang-orang yang digerakkan oleh api kemurnian?dan karena itu tak menghendaki rekonsiliasi.
Bagi Weber, hanya “etika tanggung jawab” yang mungkin jika orang menghendaki perdamaian dalam kehidupan politik.
Tapi tentu saja Weber membayangkan sebuah masyarakat yang didasari
kemufakatan untuk saling menghormati hak sesama?sebuah masyarakat yang
plural. Dalam masyarakat seperti itu manusia diakui justru
sebagai sesuatu yang tak-terumuskan, sesuatu yang tak bisa diterangkan
oleh ideologi?yang menurut Marx sama artinya dengan ide palsu dan
topeng bagi kepentingan tertentu.
Sebab itu, dengan “etika tanggung jawab”, buruh bukan hanya tampil
sebagai “proletariat” yang diseru tiap awal Mei: sebuah makhluk yang
telah disulap jadi konsep. Buruh bukan hantu yang membayang-bayangi zaman, bukan pula dewa yang akan melintasi waktu.
Ia punya impian, kemarahan yang benar, tapi ia ternyata juga punya
batas–seperti halnya para manajer dan majikan. Dan ia tak sendirian,
kini dan di kemudian hari.