Kita tahu sebabnya: ada orang yang percaya bahwa pembunuhan, bahkan pembantaian anak-anak, bisa halal.
Ada orang yang percaya bahwa mereka yang tewas itu adalah korban yang diperlukan
untuk memperoleh sebuah efek.Ada yang bahkan percaya bahwa mereka memang bersalah:
mereka (yang mengikuti misa Natal atau cuma berdiri di dekat gereja),
sengaja atau tidak, telah mengabaikan satu hal yang pokok, yakni
mutlaknya permusuhan. Mungkin itu permusuhan terhadap orang Kristen. Mungkin permusuhan terhadap
Indonesia sebagai sebuah ide persaudaraan. Sebuah perang habis-habisan, karena yang dibinasakan
adalah orang yang tak sedang dalam keadaan berperang, bahkan juga
seorang anak yang sedang bergembira. Sebuah
permusuhan yang mutlak, sebab segala hal diletakkan di bawah pandangan
sengit yang menjangkau ke seluruh penjuru, dan membentuk sebuah
panorama yang total.
Tiap tulisan adalah sebuah kehadiran yang tak selamanya bisa diduga sebelumnya pada sebuah dataran yang rata.
Tiap tulisan bisa menghadirkan makna yang tak bisa sepenuhnya diringkus
dalam sebuah desain. Singkatnya, (saya kutip
dari sebuah buku) tiap
tulisan adalah perlawanan terhadap arsitektur. Tiap tulisan adalah
ribuan subversi terhadap panorama yang mengklaim diri sempurna.
Demokrasi lahir dengan memenggal paradigma kesempurnaan itu. Ia memang
lahir dengan memenggal kepala yang dipertuan. Claude Lefort menampilkan
demokrasi dengan melihat Revolusi Prancis: sebuah tata kerajaan yang
absolut ditumbangkan dengan memotong leher sang raja.Tapi “tempat yang kosong” itu juga membawa kekosongan
yang lain: demokrasi adalah sebuah sistem yang didasarkan atas tak
adanya sebuah dasar. Setelah yang abadi
terpotong dari tubuh politik, dasar yang ada hanya bisa dianggap
bersifat sementara, dan selamanya bisa digugat. Dengan kata
lain: ia sebenarnya bukan dasar, sebab dasar itu absen. Maka barang
siapa yang cemas untuk hidup tanpa sebuah dasar
akan cemas pula
terhadap demokrasi.
Rasa cemas itu terkadang menyebabkan orang mencari sesuatu yang bisa
jadi fondasi yang kukuh kekal.Dari catatan sejarah kita tahu bahwa ia sebenarnya
satu rumusan yang terdiri atas tak lebih dari lima kalimat, sebuah ide
yang ditawarkan Bung Karno kepada sebuah rapat terbatas, sebuah gagasan
yang disetujui oleh tak sampai 50 orang anggota “panitia persiapan
kemerdekaan”. Dan semuanya berlangsung di sebuah Juli yang penuh
dengan ketidakpastian. Dengan kata lain, “dasar” itu sebenarnya
tentatif, terpaut erat pada sebuah insiden sejarah. Tapi rasa cemas
kalau harus hidup tanpa dasar akhirnya membuat rumusan itu jadi
“sakti”.Demokrasi lahir justru karena kepala, yang dianggap inkarnasi dari Yang Abadi, ternyata bisa dipenggal, dan tak bisa digantikan.
Siapa yang
merasa bisa menggantikannya, dan jadi wakil dari Yang Kekal,
akan cenderung merasa
sah untuk memenggal kepala orang lain. Atau meledakkan bom ke tubuh anak kita.
Ringkasan lain tentang Bom