• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Sang Pasar

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Goenawan Mohamad
Tak ada erang yang panjang untuk yang mati dan luka.
Yang lebih keras adalah teriak, “Aduh, Sang Pasar terkena.”
Para pengusaha, para menteri, para pejabat tinggi, para aktivis
politik, dan para teknokrat di IMF dan Bank Dunia secara serentak kecut
hati. Setidaknya selama beberapa belas jam.
Esok pagi mereka akan mencari koran dan menatap layar televisi,
menyimak suratan grafik dari menit ke menit: angka yang merosot di
semua portfolio, harga saham yang berjatuhan, nilai rupiah yang limbung.Perlindungan itu baru berarti jika ia datang dari
sesuatu yang terkait erat dengan birokrasi: agar bom tak jahanam lagi,
agar si teroris dapat ditangkap, agar dokumen tak musnah dan komputer
aman, Sang Pasar membutuhkan sesuatu yang punya organisasi efektif,
luas jangkauannya, teratur cara bekerjanya—dan berada dalam posisi yang
tak tersentuh oleh Sang Pasar itu sendiri.
Daftarnya bisa panjang: sepasukan penjinak bom, intelijen, batalyon
yang bersenjata, penjaga dan administrator rumah tahanan, sederet
jaksa, sejumlah hakim, dan mungkin pula sebuah regu tembak.a tak akan bisa bertahan di kancah kekerasan yang merusak secara tak terduga-duga, seperti bom di Bursa Efek itu.
Para perompak lanun di Laut Cina Selatan yang membajak barang
perniagaan di kapal-kapal, para penggarong bank di kota-kota—semua itu
adalah bentuk kekerasan yang justru semakin menakutkan, dan semakin
destruktif, karena salah satu sendinya adalah ketak-pastian.
Tentu, Sang Pasar pintar menari dalam ketak-pastian: Bursa Efek jadi hidup karena ada nilai saham yang turun dan ada yang naik. Tapi, berbeda dengan di tempat lain, di Legnano
ternyata para penyerbu dapat dikalahkan oleh warga yang mempersenjatai
diri dan bersiap-siaga. Sebuah tindak sukarela.
Kemudian zaman berubah. Kekuatan pertahanan macam itu tak memadai lagi. Pasukan warga seperti di Legnano hanya bisa efektif bila ada disiplin dan ada pertalian yang tumbuh dari rasa ikut memiliki.
Namun, ketika perdagangan ramai, ikatan primer di dalam tubuh
masyarakat pun retak: ada yang miskin dan ada yang kaya, ada majikan
dan ada penjual tenaga. Sang pemegang monopoli kekerasan harus bisa tetap
tunduk kepada warga yang membayar pajak dan membiayai ongkos
birokratisasi itu. Bedil harus punya tuannya.
Dengan demikian, Sang Pasar diharapkan bebas dan tak menyentuh prasarana itu.Nasib buruk akan menimpa sebuah kota bila Sang Pasar
juga merasuk kemari, dan negara tak lagi berlaku sebagai negara,
melainkan sebagai sebuah ruang bursa yang gelap: para jenderal
menawarkan servis militer ke para peminat yang ingin menggunakan
kekerasan—mungkin seorang yang ingin menagih utang, mungkin seorang
pemilik kasino gelap dan bordil, mungkin seorang pemasok narkoba,
mungkin pula seorang tokoh yang sakit hati.
Akhirnya siapa yang tak mampu tak akan terlindungi.
Persis seperti sopir-sopir yang tewas oleh ledakan bom di Bursa Efek
Jakarta di hari itu: sang korban bahkan tak dibicarakan lagi beberapa
jam setelah televisi dimatikan.
Diterbitkan di: Maret 17, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.