Junardi (38) perlahan mengisap rokok kereteknya. Asap putih mengepul, tampak kontras dengan kulitnya yang coklat kehitaman, gelap akibat terlalu banyak berada
di terik matahari. Sementara di sekelilingnya, hujan turun cukup deras. Duduk berteduh di bawah bale-bale yang dibangun di atas reruntuhan kayu kruing, Junardi ditemani Irwan (40).
Jangan tanya kalau harga barang-barang di Sibigo atau di Alafan. Pasti jauh lebih mahal lagi,” katanya.
Infrastruktur buruk Tidak bisa dipungkiri, minimnya infrastruktur perhubungan, terutama sarana transportasi, seperti jalan, jembatan,
dan kendaraan umum, menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan mahalnya harga kebutuhan pokok di pedalaman
Kabupaten Simeulue. Kondisi jalan di pantai barat dan timur kabupaten ini sama-sama rusak.
Jarak antara Sinabang, ibu kota Kabupaten Simeulue, dan Kampung Aie di pantai barat, kota
kecamatan kedua terbesar di pulau itu, hanya 57 kilometer. Namun, untuk mencapainya dibutuhkan waktu minimal dua jam menggunakan sepeda motor karena kondisi jalan yang masih berupa landasan pasir dan batu kerikil. ”Jembatan dan jalan di sini dibetulkan kalau ada pejabat yang mau lewat.
Tidak jarang, orang harus mempersiapkan ban cadangan (untuk roda dua terutama) karena bebatuan yang dilalui cukup tajam untuk bisa merobek dan menggemboskan ban. Untuk mencapai Langi, ibu kota Kecamatan Alafan—kecamatan paling ujung utara Simeulue, dari kawasan pantai timur, hingga saat ini belum bisa dengan mudah dilakukan. Menurut beberapa sopir truk pasir, setidaknya dibutuhkan waktu sampai setengah hari dari Sibigo sampai ke Langi. Bahkan, untuk menuju Lewak, desa paling utara di pulau ini, baru sampai tahap perencanaan untuk membangun jalan terobosan.
Harga eceran untuk bahan bakar jenis premium di kedua wilayah tersebut berkisar Rp 8.000 sampai Rp 10.000. Bahkan, harga minyak tanah pun melonjak di atas Rp 5.000 per liter meski harga eceran tertinggi pemerintah Rp 2.700. ”Kalau tidak ada pasokan dari Sinabang (ibu kota Kabupaten Simeulue) karena kapal pengangkutnya tidak masuk, harganya bisa lebih mahal lagi,” kata beberapa warga. Berbeda dengan kondisi saudara-saudaranya di barat, timur, dan utara, kondisi di wilayah selatan atau sekitar Kota Sinabang jauh lebih baik.
Hampir seluruh jalan di wilayah tersebut masih sangat jauh dari kondisi nyaman untuk dilewati. Mulyadinsyah mengatakan, ketertinggalan daerah di wilayah timur, barat, dan utara kabupaten ini terkait dengan minimnya akses ke daerah tersebut untuk membawa alat berat guna membangun jalan dan infrastruktur lainnya. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala ini mengatakan, untuk memperbaiki infrastruktur, terutama jalan di pantai barat, timur, dan wilayah utara, selain dibantu oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam-Nias, pihaknya mendapatkan bantuan dari Bank Pembangunan Islam (IDB) sebesar 37 juta dollar AS untuk membantu pembangunan infrastruktur di daerah tersebut.
Sementara, angka indeks pembangunan manusia di kabupaten ini merupakan yang terendah, yaitu 65,2 (tahun 2002: 61,8) dibanding kabupaten/kota lainnya di Nanggroe Aceh Darusalam. Sedangkan yang tertinggi adalah Kota Lhokseumawe (73,1). Jika diperinci berdasarkan data statistik Kabupaten Simeulue tahun 2006, Kecamatan Teupah Selatan memiliki jumlah keluarga miskin terbanyak (6.440 keluarga), disusul Kecamatan Simeulue Timur (2.224 keluarga), dan Kecamatan Teluk Dalam (2.161 keluarga). Yen Liana (25) bersama suaminya, Ris Firdaus (29), beserta ketiga anaknya, merupakan salah satu dari sekian banyak contoh keluarga miskin yang tinggal dan menetap di Simeulue. Bersama ketiga anaknya, warga Desa Kuala Bakti, Kecamatan Teupah Selatan, ini tinggal di gubuk berukuran kurang dari 20 meter persegi.
Tinggal landas yang dimaksudkan pemerintahan Darmili, menurut Mulyadinsyah, hampir sama dengan konsep yang pernah dicanangkan oleh rezim Orde Baru di bawah Soeharto. Mengurangi tingkat
kemiskinan sampai di bawah angka 50 persen, peningkatan pendapat per kapita untuk seluruh keluarga, dan penciptaan lapangan pekerjaan baru dengan pembangunan industri-industri yang bersumber dari sumber daya alam yang ada di wilayah ini, merupakan target-target yang harus tercapai.
Ringkasan lain tentang Infrastruktur Buruk, Kemiskinan Menyeruak