Persaingan antara ponsel TV
analog dengan ponsel TV digital sebenarnya tidak tidak terjadi secara frontal, meski keduanya
memang lahir pada masa yang sama. Selain tingkat kebutuhan penggunanya, juga jaringan sangat menentukan penggunaan ponsel itu. Ponsel TV analog masih berjaya di negara-negara yang masih memancarkan siaran TV secara analog,
seperti di Indonesia. Ponsel TV ini memang sangat fenomenal, meski sebenarnya sama persis
dengan TV biasa, namun sebagian penggunanya sudah merasa terbantu untuk tidak ketinggalan berita maupun acara kegemarannya.
Pada TV digital bergerak unsur kualitas yang paling menonjol adalah kemampuan menerima sinyal yang stabil, meski ponsel diputar-putar ke berbagai arah kualitas tetap tidak berubah, selain unsur interaktif dan berbagai solusi yang tidak bisa dilakukan TV analog. Bagaimanapun TV digital bergerak masih tetap menjadi perdebatan hangat di arena seperti Kongres Mobile Dunia yang baru saja berlangsung di Barcelona, Spanyol. Terutama dalam kaitannya mensosialisaikan ponsel sebagai layar keempat yang pernah dicanangkan dalam kongres itu tahun lalu. Vendor jaringan seperti Ericsson sangat getol mendukung perusahaan penyedia jasa layanan “tripleplay” (satu saluran untuk tiga jenis layanan) yang termasuk di antaranya menyediakan layanan IPTV (Internet Protocol TV).
Dalam kancah pameran di Barcelona perusahaan raksasa Motorola juga memperkenalkan ponsel TV bergerak DH01n (standar DVB-H) yang dilengkapi sarana media hiburan dan GPS yang dilengkapi peta digital Tele Atlas yang semakin populair. Evolusi mengesankan lainnya terjadi pada layar LCD, meski teknologinya sudah diperkenalkan lebih dari dua tahun lalu namun implemantasinya secara luas baru terlihat dalam pameran kali ini. Pada layar selebar sekitar 3 inci, biasanya 2,8 inci sudah mampu menggunakan resolusi VGA atau 640 x 480 pixel, karena biasanya untuk layar selebar itu baru bisa QVGA (320 x 240 pixel) atau seperempat VGA. Efek dari resolusi VGA adalah lebih lembut dan lebih tajam dibandingkan resolusi QVGA. Ponsel yang sudah menerapkan ini seperti ponsel P905iTV (buatan Panasonic) khusus bagi pelanggan operator NTT DoCoMo di Jepang, Toshiba Portege G910 yang mirip Communicator (3 inci), sampai sederatan ponsel produksi Glofiish dari Taiwan (V900, X650, M800).
Sebut saja produk seperti Viewty (LG KU990) yang mengesankan yang banyak mengeksploitasi video akan lebih sempurna dan nyaman apabila sudah menerapkan resolusi VGA. Sementara booming yang sekarang terjadi adalah pada ponsel TV analog, memanfaatkan layar kecil untuk menerima tayangan TV analog. Sukses produk i-Mobile pada pesta Piala Dunia dan disusul ponsel rancangan dalam negeri seperti dari Hitech telah mendorong penyedia ponsel untuk pasaran menengah ke bawah lain untuk berbondong-bondong menawarkan ponsel TV.
Termasuk yang juga meluncurkan ponsel TV analog ini adalah produk My-G yang mampu menangkap tayangan televisi analog seperti pada televisi biasa. Salah satu yang dicoba Kompas adalah seri MyG 660. Seperti sudah diperkirakan ponsel dengan layar 2,8 inci ini, yang mengambil dua pertiga bagian depan ponsel ini memang masih beresolusi QVGA (320x240 pixel) dengan kemampuan menangani sampai 262.000 warna.
Seperti halnya kebanyakan ponsel TV yang ada sekarang, pada ponsel ini juga dilengkapi dengan baterai cadangan berkapasitas 1.800 mAh (miliamperejam). Bagaimanapun penerimaan TV yang terus menerus akan sangat menguras baterai, kemungkinan baterai habis akan sangat besar, sehingga pengguna perlu mengantongi baterai cadangan agar tidak kehilangan kontak dengan para mitranya. Ponsel lainnya yang diluncurkan bersamaan adalah ponsel TV MyG 638 yang lebih kecil, yaitu dengan layar 2,6 inci dengan fitur yang serupa. Selain itu juga ponsel dua kartu (dual-card) GSM-GSM MyG 889 yang mencoba ikut merebut kue pangsa pasar menengah ke bawah.