• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Menjadi Presiden dari Padang ke Pariaman

.

Menjadi Presiden dari Padang ke Pariaman

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : agnes rita sulistyawaty
Naik kereta api mungkin menjadi pengalaman biasa bagi kebanyakan orang. Namun, menikmati gerbong kereta api seperti layaknya
seorang presiden
mungkin hanya bisa dirasakan di kereta inspeksi alias kereta
kepresidenan. Pengalaman itu dirasakan Kompas, yang bersama rombongan
wartawan, Dinas Pariwisata Sumatera Barat, serta Masyarakat Peduli Kereta Api
Sumatera Barat (MPKAS) menumpang kereta kepresidenan pada Januari lalu.Awalnya, gerbong ini diproyeksikan sebagai gerbong inspeksi para pejabat
perusahaan kereta api. Di atas gerbong ini kami menyusuri
jalur kereta api yang sudah ada ketika Belanda masih berkuasa di daerah
ini. Jalur Padang menuju Pariaman sepanjang 54 kilometer merupakan
gabungan dua jalur. Pertama, jalur Lubuk Alung ke Sungai Limau yang dibuat
Belanda tahun 1911. Di Stasiun Lubuk Alung, rel kereta bergabung
dengan jalur Teluk Bayur- Sawahlunto yang dibangun Belanda tahun 1891.Gerbong kepresidenan terdiri dari tiga ruangan: satu di kabin kanan dan dua di
kabin kiri. Jalan menuju kabin kanan berupa lorong sempit juga. Di sisi
kanan terletak tempat mesin pendingin ruangan. Sedangkan di kiri terdapat toilet
yang tergolong bersih. Kedua ruangan itu dibatasi dengan sekat kayu yang licin
berpelitur. Pintu pada ruangan itu terbuat dari kayu. Kenop pintu
yang terbuat dari aluminium ini tergolong unik karena berbentuk seperti salah
satu jenis bunga pada ukiran Minangkabau.Interior serupa ini juga terdapat pada satu ruangan paling ujung di kabin
sebelah kiri. Busrizal bercerita, di ruang inilah Presiden Soeharto
menghabiskan waktu sepanjang perjalanan ke Indarung. Sayangnya, sejumlah kursi
putar yang biasa menjadi properti ruang rapat ditambahkan juga di gerbong
kami. Mungkin, langkah ini untuk mengatasi kelebihan jumlah
penumpang yang kala itu mencapai lebih dari 30 orang, dari kapasitas 24 tempat
duduk. Kursi yang punya karakter berbeda dari desain
interior yang permanen ini agak mengganggu pemandangan.Sekat antar-ruangan di kabin kiri dipisahkan oleh sebuah sliding door yang
mempunyai kaca transparan di bagian atas. Dari kaca ini,
aktivitas yang dilakukan di ruangan sebelah bisa terlihat. Seluruh
dinding kereta api dibalut dengan susunan kayu jati selebar 8 sentimeter. Ukiran
Minangkabau ikut menghiasi ”dinding” kereta ini. Uliran bunga
yang menyambung satu dengan yang lain, saya kenali mempunyai tata paduan pilin
ganda atau yang sering disebut Kaluek Paku. Hanya kipas angin di sudut-sudut ruangan saja yang membantu
mengurangi hawa panas. Kereta sewa Kesempatan menjadi
presiden di atas kereta besi ini bisa dinikmati oleh siapa pun. Busrizal
mengatakan ongkos sewa gerbong kepresidenan ini hanya Rp 5 juta untuk perjalanan
Padang-Pariaman pada hari Minggu atau hari libur lain. Gerbong
akan dilekatkan pada rangkaian kereta api wisata yang berjalan setiap hari
Minggu dan hari libur lain. Di luar hari libur, gerbong ini juga bisa
disewa secara khusus. Namun, ongkosnya berlipat menjadi Rp 12 juta karena
lokomotif hanya akan menarik gerbong ini. Memang, tidak bisa dimungkiri lagi
kalau gerbong ini masih membutuhkan sedikit perbaikan, seperti permasalahan
pendingin ruangan yang tidak berfungsi maksimal akibat gerbong eksekutif dan
bisnis juga digunakan. Terlepas dari itu, mari naik kereta api di
atas gerbong kepresidenan, membelah Kota Padang hingga melihat sawah di
Pariaman... tut... tut... tut....
Diterbitkan di: Maret 17, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.