Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > RONGGENG PASAMAN: SENI PERTUNJUKAN MINANGKABAU DI DAERAH PERBATASAN

.

RONGGENG PASAMAN: SENI PERTUNJUKAN MINANGKABAU DI DAERAH PERBATASAN

Summary rating: 3 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Zuriati
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 51
kata: 600
Diterbitkan di: Maret 17, 2008
Ronggeng Pasaman merupakan satu tradisi lisan
Minangkabau, berupa seni pertunjukan yang terdiri atas pantun, tari
atau joget, dan musik, yang khususnya terdapat di Simpang Empat dan
Simpang Tonang, Pasaman Barat.

Pantun merupakan unsur yang penting dalam tradisi ronggeng pasaman.
Sebagai unsur yang penting, pantun didendangkan atau dinyanyikan oleh
seorang penampil pria yang berperan sebagai ‘wanita’ atau disebut
dengan ‘ronggeng’, sambil berjoget mengikuti irama lagu.
Dengan begitu, penyebutan kata ronggeng mengacu pada dua pengertian,
yaitu ronggeng sebagai satu bentuk seni pertunjukan dan ‘ronggeng’
sebagai sebutan untuk pelaku (penampil) ‘wanita’ yang ahli dalam
berpantun.Jenis pantun yang dibawakan adalah pantun muda-mudi
dan didendangkan atau dinyanyikan mengikuti irama lagu, seperti lagu
“Cerai Kasih”, “Kaparinyo”, “Buah Sempaya”, “Tari Payung”, “Mainang”,
“Alah Sayang”, “Sinambang”, dan “Si Kambang Baruih”. Dari
beberapa irama lagu tersebut, irama lagu “Kaparinyo” lebih dominan
dipakai di Simpang Empat, sedangkan irama lagu “Cerai Kasih” lebih
dominan digunakan di Simpang Tonang. Pantun-pantun
yang didendangkan mengikuti irama-irama lagu tersebut, dilantunkan oleh
seorang ‘ronggeng’ dan penampil pria, sambil menari secara bergantian. Dari irama lagu dan bahasa yang dipergunakan dalam
tradisi ronggeng pasaman ini, dapat dikatakan bahwa ia merupakan salah
satu contoh seni tradisi yang ada di daerah perbatasan, yang lahir dan
hadir di tengah-tengah masyarakat dari dua etnis yang berbeda.
Kedua bentuk ini pulalah yang dikatakan sebagai kenyataan-kenyataan
yang dikondisikan oleh percampuran masyarakat dari etnis yang berbeda,
yang terefleksikan dalam salah satu seni tradisi masyarakatnya.Oleh karena keharusan itu pula, maka masyarakat
pendukungnya ada yang mengatakan, bahwa makna kata ‘ronggeng’ itu
adalah seseorang yang juara pantun. Seorang juara pantun berarti seorang yang ahli dalam berpantun.
Keahlian berpantun itu harus dimiliki oleh seorang ‘ronggeng’ dan
pantun-pantun yang didendangkan dalam pertunjukan tidak dipersiapkan
dari rumah, tetapi diciptakan dan digubah berdasarkan kondisi yang
muncul di arena pertunjukan.

Penampil pria ini dapat bertanya dan berdiskusi
dengan penampil lainnya, ketika mendapat kesulitan dalam membalas atau
menjawab pantun yang didendangkan oleh ‘ronggeng’.
Atau, ketika sudah tidak dapat lagi mencipta dan mengubah pantun yang
akan didendangkan kepada ‘ronggeng’, mereka dapat bertanya kepada
penonton yang lain. Begitu juga, penonton dapat membisiki mereka dalam membalas pantun-pantun dari ‘ronggeng’. Para penampil pria ini dapat saja berhenti dan menjadi penonton biasa kembali dan lalu digantikan oleh penonton yang lainnya.

Jumlah penampil pria paling sedikit berjumlah tiga orang.
Satu di antaranya, berpantun dan berjoget dengan ‘ronggeng’ secara
bergantian, sedangkan dua penampil yang lain hanya berjoget, secara
bergantian pula. Penampil pria yang sedang
menari berpasangan dengan ronggeng berkewajiban membalas pantun-pantun
yang didendangkan oleh ‘ronggeng’ tadi.Sejak dikenalnya tradisi ronggeng ini di Pasaman, yang
diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh para pekerja yang berasal
dari Jawa di kebun-kebun karet di Pasaman, ada dua pandangan terhadap
tradisi ronggeng ini. Pertama, pandangan dari kaum tua,
khususnya dari kalangan agama yang menganggap bahwa tradisi ronggeng
ini tidak sesuai dengan Islam. Anggapan itu terutama disebabkan oleh
adanya penampil pria yang berdandan menyerupai wanita. Namun begitu,
kalangan tua (agama) ini tidak sampai melarang tradisi ini
dipertunjukkan, dengan syarat tidak dipertunjukkan di dekat lokasi
mesjid, mushala, atau surau, apalagi di dalam tempat-tempat peribadan
itu. Kedua, pandangan dari kaum muda yang menganggap bahwa tradisi ini
hanyalah sebuah dunia hiburan. Oleh karenanya, adanya penampil wanita yang diperankan oleh pria yang berdandan menyerupai wanita bukanlah sesuatu yang salah.
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.