Randai adalah keindahan. Adalah derai
air mata. Adalah harapan dan adalah keagungan
cinta. Tapi juga kekejaman. Randai adalah simpul khalayan anak Minangkabau yang bisa mewakili generasi ke generasi. Paut memaut
rasa cinta, paut memaut kebencian, kekerasan, yang kuat mengalahkan yang lemah. Namun,
pada akhirnya yang benar juga yang
akan menang.Jika ada pertunjukan yang paling mengagumkan sepanjang sejarah tradisional Minangkabau, maka itu pastilah randai. Usianya membentang panjang berabad-abad.
Menurut informasi, randai pada awalnya dimainkan di halaman surau, sebagai perintang-rintang waktu bagi para pemuda.
Pemuda yang sesungguhnya sudah punya rasa cinta, memendamnya
dalam-dalam di dada, tapi mereka tuangkan dalam kesenian berupa randai.
Rambun pamenan, sebuah randai dari Sungayang, Tanah Datar, misalnya, berkisah tentang seorang anak muda yang mencari ibundanya.
Sang ibu ditawan oleh Harimau Tambun Tulang, tukang samun paling
kesohor di Bukit Tambun Tulang. Harimau Tambun Tulang, perampok yang
makan masak mentah, jatuh cinta pada seorang wanita. Itulah ibu Rambun
Pamenan. Kisah akhirnya dapat ditebak, si anak menemukan ibunya dalam
penjara batu dengan tangan dirantai. Tidak saja bisa membawa ibunya
pulang, tapi ia berhasil membunuh Harimau Tambun Tulang.
Di Padang sendiri, misalnya di Pauh, ada grup randai Tungku Tigo Sajarangan yang diasuh oleh Rusydi Pandeka Sutan. Musra yang akrab disapa Mak Katik, malah mendapat
kehormatan diundang sebagai dosen tamu di University of Manoa, Hawaii,
selama enam bulan dan bersama mahasiswa mementaskan randai dengan
cerita Umbuik Mudo yang dialihbahasakan ke bahasa Inggris. Profesor di sana menilai kesenian randai tak kalah hebat dan mengagumkan. "Kekagumannya sama besar dengan kekagumam pada karya Williams Shakespeare," kata Mak Katik, mengutip Dr Christine Pauka, yang tesisnya tentang randai.Menurut Rusydi N, penilik kebudayaan di Padang, biasanya pemain galombang dipilih tubuhnya yang atletis.
Selain pemain galombang, juga ada pemain naskah.
Andalan pemain ini adalah vokalnya yang rancak, karena ia akan
berbicara lantang menyampaikan narasi demi narasi yang menjadi ruh
cerita randai. Berikut juga ada pemain musik/dendang.
Menurut Rusydi, pemain musik memang harus orang yang berbakat, sebab
merekalah yang akan memainkan talempong, gendang, serunai, saluang,
puput batang padi, bansi, rabab dan lainnya.
Selain itu, keberhasilan sebuah randai juga ditentukan oleh tukang dendang.
Tukang dendang (penyanyi) yang tidak piawai, otomatis akan membuat
randai kehilangan darah, sebagus apapun cerita yang dibawakannya.Pemain ini akan memberi bobot dan pesan moral lewat kiasan yang ia sampaikan. Biasanya, randai memang sarat dengan pesan-pesan seperti itu. Randai juga hadir ke pentas dengan pemain silat.
Bukan saja diperlukan dalam gerakan bersama yang membuat lingkaran di
pentas, tapi akan ada perkelahian antara jagoan pada suatu tempat. Dan itu memerlukan silat.
Tapi pada posisi pemain manapun seseorang dipercaya, biasanya pemain
randai akan berperan sebagai raja, permaisuri, putri raja, anak muda,
dubalang, hulubalang, serta dilengkapi peran lainnya. Siapa akan memerankan apa, diantur oleh sutradara atau tuo randai.
Jika hari ini kita menontotn randai, maka hal itu, menurut sastrawan
Yusrizal KW, merupakan hasil dari suatu proses akulturasi yang panjang
antara tradisi kesenian Minangkabau dengan bentuk-bentuk sandiwara
modern seperti tonil, yang mulai dikenal masyarakat Minangkabau sejak
awal abad ke-20.
Ringkasan lain tentang Teater Randai