Artikel ini bermaksud menggambarkan gaya
tari dalam perspektif kontekstual dengan mengambil kasus tari Piriang Sulueh
di nagari pertama Minangkabau, yaitu nagari Pariangan. Pendekatan kualitatif-antropologis digunakan dalam penelitian ini, yang secara khusus disebut choreometrics, yaitu melakukan analisis hubungan antara
gerak tari yang meliputi sikap tubuh, tipe transisi, jumlah anggota tubuh yang terlibat,
dan bentuk-usaha dengan pola aktivitas masyarakat sehari-hari.Teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara telah digunakan dalam mengumpulkan data dan kemudian dilakukan proses analisis triangulasi sumber dan teknik itu sendiri guna menda Beberapa nama tari yang terdapat di nagari-nagari
adalah seperti alang Suntiang Pangulu dari Padang Laweh, Adok dari Saningbakar, Alau-ambek dari Sungai Sariak, Benten dari Painan, serta jenis-jenis tari Sewah, Galombang dan Tari Piriang yang terdapat dalamberbagai wujud di setiap nagari (Sedyawati, l99l:l4). Tari Piriang Sulueh adalah salah satu yang khas dari nagari Pariangan dan gaya tari ini akan dikaji dari segi kontekstual, karena Pariangan adalah nagari tertua dan pertama di Minangkabau. Kajian ini diharapkan menjadi lebih tepat dan sangat bermanfaat bagi pemahaman budaya lewat ekspresi dan refleksi tari yang ada di nagari ini, dengan fokus utama yaitu: bagaimana kaitan gaya gerak tari Piriang Sulueh dengan pola aktivitas masyarakat nagari Pariangan?
patkan kridibilitas data, termasuk melakukan konfirmasi dengan hasil penelitian lainnya. Akhirnya penelitian ini menemukan bahwa baik dilihat dari sikap tubuh, tipe transisi, jumlah anggota tubuh yang terlibat, maupun bentuk-usaha yang terdapat dalam tari Piriang Sulueh, ternyata sangat erat sekali kaitanya dengan pola aktivitas masyarakat nagari Pariangan sehari-hari yang terpola dengan aktivitas pertanian bercocok tanam di sawah.
Semua kesenian ini eksistensinya di nagari kuat, karena diakui dalam aturan nagari yang disebut dengan Undang-undang nan Sambilan Pucuak yang antara lain menyatakan bahwa undang-undang taluak kapakaian, pamainan, bunyi-bunyian, dan karamaian, artinya eksistensi seni diakui sebagai bagian integral dari adat nagari.
Ragam gerak yang diangkat dari kegiatan pertanian adalah ragam gerak basiang (membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela pohon padi yang masih dalam pertumbuhan), manyabik(memotong batang padi yang sudah masak dengan menggunakan sabit), mairiak(merontokan gabah dari tangkainya dengan menggunakan gesekan-gesekan telapak kaki) dan maangin (memisahkan gabah yang bernas dengan yang hampa). Ragam gerak yang diangkat dari kegiatan mencari ikan adalah ragam gerak serakan-jalo (melemparkan jala ke sungai untuk menangkap ikan), ragam yang berasal dari gerak binatang adalah ragam galuik ramo-ramo (kupu-kupu bergelut) dan alang tabang (meniru gerak elang yang sedang menari-nari). Ragam yang berasal dari kebiasaan silat adalah ragam antak siku (menyerang dengan menggunakan siku), bagolek(bergulingan), mainjak piriang (menginjak piring yang di jejerkan) dan galombangsebagai gerak penghubung yang berasal dari gerak menangkis dan menyerang.
Selain looped, gerakan lengan dan tungkai yang dilakukan dengan gerak spiral, tangan-tangan yang berhadapan secara asimetris, serta gerakan pergelangan tangan dengan liku-liku geraknya juga dimasukkan pada klaster tiga dimensi. Walupun semua tipe transisi yang dikemukakan Lomax di atas terdapat pada tari Piriang Sulueh, namun yang dominan adalah transisi yang berada pada klaster tiga dimensi atau menggunakan lebih dari satu tipe transisi yang termasuk pada klaster satu atau dua dimensi.
Khusus pada ragam bagolek badan yang menjadi sentral gerak atau patokan yaitu badan digulingkan ke arah samping kanan di atas piring yang berjejer sedangkan pada ragam gerak serakan jalo seluruh tubuh ikut terlibat. Keterlibatan kepala dan mata yang selalu mengikuti ke mana gerakan tangan terlihat jelas pada ragam gerak galuik ramo-ramo, basiang, manyabik dan serakan jalo, sedangkan pada ragam gerak maangin dan mainjak piriang keterlibatan kepala hampir tidak ada karena pandangan selalu menghadap lurus ke depan. Pada gerak-gerak penghubung yang bersifat spontan nampaknya penari lebih banyak melihat ke bawah. Berdasarkan perbandingan data keterlibatan tangan, kaki, badan dan kepala di atas maka dapat ditemukan bagian tubuh yang paling aktif dalam tari Piriang Sulueh tersebut secara berurutan yaitu: yang paling aktif adalah tangan dan diikuti oleh gerak kaki, kepala dan bagian badan.
Ringkasan lain tentang Gaya Tari Dalam Perspektif Konstektual