Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Makan Bajamba, Tradisi Koto Gadang yang Masih Dipertahankan

.

Makan Bajamba, Tradisi Koto Gadang yang Masih Dipertahankan

Pengarang : Atviarni
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 13  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 14, 2008
MAKAN BAJAMBA (makan bersama dalam satu piring) merupakan salah satu tradisi turun temurun yang biasa dilakukan di Kenagarian Koto Gadang, Kabupaten Agam. Kegiatan MAKAN bajamba, menjadi daya tarik tersendiri bagi Koto Gadang, di tengah modernisasi berupa jamuan makan secara prasmanan yang diadopsi dari luar, karena ternyata hal tersebut masih dipertahankan. Tentu saja, tradisi ini tidak setiap saat bisa kita saksikan. Ada momen-momen tertentu, dimana makan BAJAMBA menjadi semacam ritual ‘wajib’ yang mesti dijalankan oleh warga Koto Gadang tersebut.
Terakhir, lauk yang wajib menjadi teman makan bajamba itu adalah masakan khas Sumatra Barat, rendang daging yang dicampur dengan kacang pagar. Potongan dagingnya tidak terlalu besar, namun dirasa cukup untuk dimakan berlima. Isi satu porsi rendang adalah tiga potong daging ditambah sedikit kacang dan dedak rendang. Ketiga jenis lauk tersebut, dihidangkan bersama-sama nasi dalam jamba besar dan ditambah sepiring nasi untuk ‘tambuah’ (tambahan).
Kegunaannya adalah untuk mengelap/menyerap minyak dari sambal yang sudah dimakan tadi, ketika makan sudah selesai. Jadi, sebelum tangan dicuci di kobokan, terlebih dulu, minyak yang melekat di tangan tersebut diserap dengan daun pisang tadi.
Nus, kaum perempuan haruslah memakai baju kurung dengan bahan satin untuk yang masih muda, dan volvet untuk yang sudah berumur. Namun, seiring perkembangan zaman, karena ada jenis bahan pakaian itu sudah tak diproduksi lagi, akhirnya makin bervariasilah bahan baju kurung yang dipakai untuk kegiatan adat ini.
Artinya, jika makan sepiring berlima, apa yang ada di hadapan kita, wajib kita habiskan. Untuk menyuap nasi pun, ternyata ada tata cara tersendiri. Nasi diambil sedikit, biasanya cukup untuk sesuap saja. Tambah sedikit lauk pauk, kemudian dimakan dengan cara memasukkan nasi yang ada di tangan ke mulut dengan posisi duduk sempurna. Yang perempuan bersimpuh, sedangkan yang laki-laki ‘baselo’. Tujuan makan dengan cara seperti ini, agar nasi yang hendak masuk ke mulut, bila ada yang jatuh tidak kembali masuk ke piring. Jadi, yang lain tidak merasa jijik untuk memakan nasi tersebut secara bersama-sama, karena tak ada sisa di sana.
Semua itu, tetap saja tak mengurangi nilai adat yang dilaksanakan. Untuk memasak pun, dilakukan bersama-sama. Sehingga suasana kekeluargaan dan gotong royong sangat terasa. “Tradisi ini akan tetap ada, selama kita-kita ataupun generasi yang akan datang tetap mempertahankannya. Karena inilah cirri khas negeri kita,” tutup Ny. Nus.

Ringkasan lain tentang Makan Bajamba, Tradisi Koto Gadang yang Masih Dipertahankan
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------