Cibaduyut, Bandung, yang terkenal dengan
sepatu lokalnya kini mendapat pesaing dari Sumatera Barat. “Honesty” adalah merek sepatu
made in Nagari Sintuk, Lubuk Alung. Empat tahun terakhir sepatu
buatan lokal ini mulai menguasai pasaran
di Sumatera Barat dengan mutu tidak kalah bersaing dengan Cibaduyut. Sepatu-sepatu ini buatan Yusmael, 42 tahun, yang diproduksi secara home industry dari Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Mencari rumahnya tidaklah sulit, karena berada di pinggir jalan raya Kota Padang ke Kota Pariaman, tepatnya di Nagari Sintuk.
Mulai dari sepatu anak-anak, wanita, hingga sepatu pria. Itulah ruang pamer sepatu dengan merek “Honesty” milik Yusmael. Selain menjual sepatu di ruang pamer, di tempat ini konsumen juga bisa memesan sepatu atau sandal sesuai keinginan.
Bermula Membantu Tetangga Usaha sepatu Yusmael bermula dari pengalaman masa remajanya yang sering membantu tetangganya
membuat hak sepatu di Lubuk Alung pada tahun 80-an. Saat itu sepatu
dan sandal dengan tapak dari kayu sedang trend meniru gaya sepatu penyanyi dangdut terkenal di masa itu, Arafik. “Sehari bisa puluhan telapak sepatu dari kayu yang kami hasilkan di rumah tetangga saya yang dijual ke pembuat sepatu di Padang,” katanya.
) ia mendapat beasiswa kursus membuat sepatu di Cibaduyut bersama 14 pemuda di kampungnya. “Karena ini kesempatan emas, selama 40 hari kursus tidak saya sia-siakan untuk belajar membuat sepatu mulai dari membuat pola, desain hingga langsung praktek membuat sepatu, padahal teman-teman yang sama dengan saya banyak yang tidak serius dan menghabiskan waktu jalan-jalan di Bandung, sehingga saat pulang hanya saya yang jadi,” katanya. Saat pulang dari Cibaduyut, ia diberi modal Rp1,5 juta oleh penyelenggara untuk modal awal membuat sepatu. Sampai di kampung, dengan modal kecil Yusmael mulai membuat sepatu di rumah mertuanya.
“Namun, kemudian beberapa pemilik toko sepatu di Padang tahu sepatu itu bukan buatan Bandung tetapi buatan Lubuk Alung, dan tidak mau menerima karena katanya kalau konsumen tahu sepatu itu buatan Lubuk Alung tidak bisa laku,” kata Yusmael.
“Orang Kadin (Kamar Dagang dan Industri-red) kaget, kok ada sepatu bagus buatan lokal, mereka terus mendorong semangat dan meminta saya membuat sepatu yang sedang trend di televisi dan majalah,” katanya.
Setelah itu dapat order lagi dari Bendahara Pramuka Malaysia senilai Rp50 juta untuk mengirimkan sepatu buatannya yang akan dijual di Malaysia. “Saya juga diundang ke Malaysia mendaftarkan merek halal untuk sepatu saya di Malaysia, saya disuruh pura-pura jadi orang Malaysia dan dibawa ke pameran sepatu internasional di Kuala Lumpur pada 2005, sekarang merek halalnya sudah keluar,” katanya.
Ringkasan lain tentang Mempopulerkan Sepatu Made in Lubuk Alung