Memang, kota
tempat tinggalnya juga banyak
orang Cina. Otomatis nih, yang
di sekolahnya itu
kebanyakan anak- anak Cina. Vhie yang selama ini biasa- biasa saja jadi begitu
bersemangat akan cita- citanya itu. Mulai
dari segala sesuatunya telah
ia persiapkan dari sekarang. Bahkan ia telah menyampaikan hal itu sama
keluarganya. Ayah Bunda dan saudara- saudaranya sangat mendukung akan keinginan
si bungsu itu. Jadilah
mereka sekeluarga sebagai asisten si “ Anak Mimpi”.
Setiap hari selalu saja ada pembahasan tentang bagaimana cara mendapatkan titik
keberhasilan itu.Tapi ambisinya itu akhir- akhir ini melemah begitu dia mendapati
kenyataan yang sangat terbalik dengan apa yang diharapkannya. Keanekaragaman
orang- orang yang hidup di kota
kecil itu membuatnya bingung.“ Kayaknya Vhie
nggak bakalan berhasil deh Bu”, tuturnya saat bersama
dengan wanita tercinta itu di dapur rumah.“ Apanya yang nggak bakal berhasil?”, Ibunya balas bertanya sambil
membawa sambal rendang, makanan khas Minang itu ke meja makan.“ Itu, pengen mengubah orang Indonesia ini sepintar anak Cina
itu”, pelan ia mengatakan seperti menelan permen pahit.“ Memangnya kenapa?”, Ibunya bertanya
lagi dengan rasa penasaran.“ Ya… Ibu lihat saja. Orang Indonesia ini masih banyak yang
tidak bisa diajak kompromi. Kemarin saja diajak belajar bersama malah nggak
mau. Emang ya, orang- orang ini susah diajak bersatu kayak sapu lidi”, tuturnya
sambil memutar- mutar kran air tempat mencuci piring. Pandangannya nggak lagi
bersemangat seperti biasanya.“ Begini ya, berarti Vhie punya suatu tugas di samping menjadikan orang Indonesia
ini lebih pintar dari orang Cina itu”, pancing Ibunya tersenyum.“ Tugas?!”, ia tertegun. Ia merasa ragu untuk mendengar kelanjutan
Ibunya. “ Tugas apalagi Bu?”, tanyanya hati- hati. Ibunya merasa menang untuk
bicara saat ini. Ditariknya Vhie ke bangku kecil di dekat mereka.“ Vhie harus tahu, bagaimana untuk bisa mengajak mereka”.“ Tapi udah Vhie coba kok. Tapi Vhie malah diejek. Masa’ udah SMA nggak
bisa belajar sendiri. Padahal Vhie cuma pengen mereka itu jadi lebih baik di
sekolah. Walau memang Vhie pun sekarang lagi hancur dalam pelajaran”.“ Apa Vhie nggak tau sesuatu yang Vhie lupakan?”, desak Ibunya.“ Rasanya nggak. Vhie udah usaha semaksimal mungkin kok. Mereka aja yang
nggak ngerti sama maksud Vhie”.“ Apa Vhie sudah nerangin?”. Ia mengangguk tegas.“ Kalau begitu Vhie rasa ada yang kurang nggak?”. Ia menggeleng menatap
Ibunya. Tatapan Ibunya seakan- akan menuduh bahwa ia telah melupakan suatu hal
dan meninggalkannya entah dimana. Mata Ibunya mendesak. Ia menggeleng sekali
lagi.“ Vhie nggak sadar sama satu hal yang sangat terlupakan?”, tanyanya
Ibunya lagi. Ia kembali menggelengkan kepala.“ Ini sudah lama lho Vhie.
Ringkasan lain tentang sambungan dari "langkah kecil dari vhie"