Every one is a moon and has a dark side he never show (Mak Twain, American Humorist, Writer and Lecturer 1835-1910). Kehidupan tiap orang ibarat bulan. Selain sisi terangnya, juga ada sisi gelapnya. Untuk sisi gelapnya, orang memang
tidak suka menunjukkannya seperti disebut dalam kutipan
di atas. Membicarakan sisi buruk seseorang, apalagi tokoh
besar sekaliber Soeharto yang wafat Minggu, 27 Januari 2008, tentu saja tidak pada tempatnya.
Kita bisa melihat bagaimana respons publik atas mangkatnya
Pak Harto. Para mantan pemimpin Singapura, Malaysia,
dan Australia, yang pernah jadi sahabat Pak Harto, pun datang melayat. Di media massa Belanda, hampir tidak ada koran
atau televisi yang tidak menayangkan berita mangkatnya Pak Harto. Apalagi media di tanah air, semuanya memberikan porsi besar pada berita seputar mangkatnya beliau.
Tidak ada tokoh besar di dunia yang tidak membelah publik dalam dua golongan besar. Lihat saja, setiap isu terkait Soeharto mulai dari awal hidupnya hingga akhir hayatnya, tidak pernah sepi dari kontroversi. Selalu saja timbul pertentangan atau pro kontra antara yang memuja Soeharto dan kubu yang menghujatnya merata di semua strata. Bukan hanya di level orang awam, di antara politisi, pengacara, bahkan sejarawan pun berlangsung adu argumentasi sengit. Di milis-milis segala hal terkait Soeharto, selalu tidak sepi dari komentar, termasuk ketika ditanyakan, apakah Soeharto itu seorang pahlawan atau pecundang.
Mungkin tepatlah pendapat David Reeve dari University of New South Wales bahwa dewi fortuna selalu melindungi Soeharto sehingga keberuntungan menjadi salah satu kunci suksesnya yang menonjol, lepas dari asal-usul dan masa kecilnya yang pahit dan penuh penderitaan. Jadi, lepas dari segala kontroversi yang ada, kita termasuk pihak yang anti atau pernah jadi korban Soeharto harus mengakui kebesarannya, sesuai kriteria Kaffka. Kedua, harus diakui kontribusi paling signifikan dari Soeharto ada di bidang ekonomi. Dengan trilogi pembangunannya -stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan-, ekonomi Indonesia yang amburadul dengan inflasi di awal Orba sebesar 600 %, bisa dibenahi Pak
harto yang dikenal cepat mengambil keputusan, berani ambil risiko, konsekuen, dan konsisten.
Singkatnya Elson menulis: "Jasa terbesar Soeharto yang terus mengikat Indonesia sekarang dan Indonesia di masa mendatang adalah pertumbuhan ekonomi, yang membawa Indonesia beranjak dari negara yang stagnan dan miskin ke alam dunia modern." Rahasia ekonomi Indonesia yang berkembang terletak pada kebijakan Soeharto yang tidak mengabaikan sektor pertanian, mengingat latar belakang dan masa kecilnya sebagai anak petani.
Koran-koran atau televisi-televisi swasta berpengaruh di negeri ini, misalnya, lahir di era Orba, meskipun media-media itu kemudian ada yang diberedel atau selalu berada dalam ancaman pemberedelan. Sebagian besar CEO di perusahaan-perusahaan besar Indonesia saat ini muncul di era Pak Harto. Suka atau tidak, diakui atau tidak.
Andai berhenti pada 1988 atau 1993, tentu ceritanya akan lain, baik bagi Pak Harto maupun bagi Indonesia. Meski demikian, saya mengingatkan agar semua masalah hukum terkait kroni Soeharto jangan pernah dikubur atau dilupakan. Ingat, para kroni itulah yang paling suka membonceng dan memanfaatkan setiap momentum, termasuk momen mangkatnya Pak Harto sekalipun.
Ringkasan lain tentang Tempat Soeharto dalam Sejarah Indonesia