Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Dilema Film Ayat-Ayat Cinta

.

Dilema Film Ayat-Ayat Cinta

Summary rating: 5 stars 3 Tinjauan
Pengarang : Agus Wibowo
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 182
kata: 600
Diterbitkan di: Maret 10, 2008
Kesuksesan sutradara Hanung Bramantyo mengangkut Ayat-Ayat Cinta (AAC) ke layar kaca (film) patut diacungi jempol. Novel religius best seller karya Habiburrahman El Shirazy tersebut berhasil dibesut menjadi film bernuansa religius yang apik dan mencerahkan.Di sana, disuguhkan tema-tema kemanusiaan, pluralisme, kesederhanaan, kesetiakawanan, serta romantisme percintaan yang mengharu biru. Hanya, film AAC mampu menampilkan romantisme percintaan yang dibesut dengan nilai-nilai agama (Islam). Sentuhan Hanung sebagai sutradara andal peraih Piala Citra 2004 dan 2007 terbukti lewat film ini. Baik dari aspek bahasa gambar yang sangat dikuasainya maupun tampilan bermacam detail yang "tertulis" menjadi terucap, atau hanya tervisualisasikan sesaat.
Apalagi, di tengah kejenuhan publik kita akan tontonan film-film religius yang digarap secara berlebih atau -dalam istilah Cak Nun- film-film religius yang justru tidak religius lantaran memangkas nilai-nilai luhur agama Islam. Mengapa demikian? Film-film religius picisan tersebut dipertontonkan sebagai media pengusir hantu, jin, setan, dan sebagainya. Bahkan, tak jarang disuguhkan pencitraan Tuhan yang kejam dan tanpa rasa welas-asih terhadap pendosa. Pencitraan tersebut berdampak buruk pada persemaian konsep teologis anak-anak, generasi muda, dan mereka yang awam terhadap agama Islam.
Bagi masyarakat yang kritis, usaha tersebut akan memunculkan pelbagai pencitraan buruk terhadap karya aslinya, memupus imajinasi para siswa, dan menimbulkan penafsiran serta apresiasi yang seragam akan sebuah karya sastra dalam pengajaran sastra di sekolah. Tidak jarang, generasi muda mendatang menjadi salah tafsir tentang kisah maupun pesan utama yang terkandung dalam karya sebenarnya. Bahkan, bisa terjadi misscommunication antara pujangga dan generasi muda pembacanya, yang lambat laun bisa menjungkirbalikkan tatanan nilai dan norma budaya yang mestinya perlu dikaji secara kritis dan mendalam (Didik Durianto, 2005).
Melalui usaha tersebut, karya sastra bakal memiliki konsumen baru sebagai perluasan wilayah kreatif yang sejalan dengan perkembangan teknologi dan industri komunikasi. Selain itu, masyarakat awam -sebagai objek dan subjek karya sastra- semakin diuntungkan karena disuguhi aneka ragam cerita yang menarik, tanpa memedulikan nilai-nilai yang dibawa.
Memang secara kebetulan, film AAC digarap sutradara yang mumpuni serta mampu menerjemahkan teks (sastra) sebagaimana yang diinginkan penulisnya (Kang Abik). Bagaimana jadinya jika kebetulan film tersebut digarap sutradara lain atau digarap secara asal-asalan? Tentu akan terjadi pemenggalan alur serta tafsir sepihak yang mendangkalkan karya sastra aslinya. Menurut Niall Lucy dalam Postmodern Literary Theory (1997), kesuksesan filmisasi sastra, ujung-ujungnya diikuti proses sinetronisasi dan komersialisasi.
Namun, arus besar sinetron saat ini menunjukkan bahwa kedua kekuatan dominan dalam ruang sosial layar kaca itu tidaklah berdampingan di wilayah yang otonom. Kenyataannya, modal ekonomi mendominasi wilayah pemilik modal kebudayaan. Lagi-lagi, masyarakat yang menjadi korban karena nilai-nilai luhur budaya yang terkandung dalam karya sastra dirampas melalui proses sinetronisasi dan komersialisasi tersebut.


Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.