Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Benarkah Reformasi Menang?

.

Benarkah Reformasi Menang?

Pengarang : Satjipto Rahardjo
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 10  kata: 300   Diterbitkan di: Maret 10, 2008
Jika telah memenangi perang, pengadilan terhadap kezaliman di masa lalu seharusnya berjalan mulus. Di sinilah terletak inti persoalan mengapa reformasi yang sudah berjalan 10 tahun ini banyak menuai ketidakpuasan, termasuk dalam urusan adil-mengadili. Indikasinya antara lain alotnya mengadili korupsi mantan Presiden Soeharto dan kroni, yang diperintahkan MPR. Hingga Pak Harto meninggal, kasus hukumnya belum kunjung usai. Korupsi struktural Pengadilan (dan hukum) merupakan simbol kemenangan kebenaran dan keadilan atas kezaliman.
Kepercayaan dan rasa hormat masyarakat akan kian luntur terhadap hukum dan pengadilan Jika keduanya gagal menjadi simbol (kemenangan) kebenaran dan keadilan atas kezaliman. Indonesia merupakan laboratorium yang bagus untuk membuktikan bahwa agar efektif, pengadilan memerlukan kekuatan politik di belakangnya. Pengadilan tidak berdiri sendiri. Karena itu, perlu mendapat dukungan dari masyarakat yang peka terhadap ketidakadilan dan kezaliman. Pengadilan dan masyarakatnya tak dapat dipisahkan.
Penelitian Sebastiaan Pompe menyimpulkan, dalam waktu 50 tahun, integritas pengadilan Indonesia telah merosot menjadi korupsi struktural. Di sini ada satu kontradiksi. Dengan bergelora, sejak 1998, bangsa Indonesia merayakan kemenangan kebenaran dan keadilan atas pemerintahan yang korup dan otoriter. Mereka merayakan dengan panji-panji reformasi. Reformasi sudah menang! Matilah pemerintahan yang korup! Begitulah eforia yang dimulai 10 tahun lalu. Jika itu terjadi, kehendak Orde Reformasi tak dapat dibendung lagi. Kemenangan itu seharusnya juga merambah pengadilan karena komunitas Indonesia-Baru yang antikezaliman sudah menang.
Dari sudut sosiologi pengadilan, seharusnya berbagai kejahatan korupsi juga menjadi mudah diadili. Sosiologi pengadilan akan mengatakan, berdasar Mirror Thesis (Tamanaha), pengadilan merupakan cermin masyarakat. Berdasar optik sosiologis itu dapat dijelaskan, Orde Reformasi tidak benar-benar telah memenangi perang dan Orde Otoriter-Korup belum benar-benar dikalahkan.
Pengadilan terhadap korupsi-korupsi besar di negeri ini di saat lalu hanya akan membuahkan hasil yang memuaskan jika kekuatan kejujuran-kebaikan telah mengalahkan kekuatan korup dan otoriter di masa lalu.


Ringkasan lain tentang Benarkah Reformasi Menang?
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------