Kita telah meletakkan negara ini di atas dasar
kedaulatan rakyat. Maka, tugas negara
adalah memastikan kedaulatan rakyat, menjamin perwujudannya, termasuk di dalamnya hak untuk beragama
dan beribadat. Memastikan kedaulatan rakyat berarti abstinensi dari intervensi dalam urusan keagamaan, khususnya doktrin keagamaan.
Bahwa negara ini diletakkan di atas dasar kedaulatan rakyat, tidak dengan sendirinya membawa konsekuensi kedaulatan Tuhan tidak diakui. Pandangan sekuler tidak bersifat anti-
agama, tetapi justru menghormati status suci, mulia, dan misteri Tuhan. Beragama tidak mesti berarti antisekularisasi dan antidemokrasi. Memastikan kedaulatan Tuhan bukan tidak bertentangan dengan
demokrasi, tetapi dapat menjadi faktor penting mewujudkan demokrasi.
Kekuasaan politik tidak lagi menjadi urusan antarmanusia, tetapi rencana dan keputusan Tuhan yang tak terbantahkan. Kedua bahaya ini menuju muara yang sama, yakni kekuasaan yang despotis, bebas dari segala kemungkinan pembatasan, dan terlepas dari keharusan mempertanggungjawabkan dirinya. Despotisme adalah musuh dari demokrasi. Sebab itu, melawan despotisme adalah syarat bagi lahir dan bertahannya demokrasi, yang dilakukan melalui sekularisasi kekuasaan dan desakralisasi penyelenggara kekuasaan. Karena kekuasaan yang despotis tidak jarang mengenakan mantel keilahian, keimanan sebagai penghayatan kedaulatan Tuhan menjadi satu kekuatan utama untuk sekularisasi dan desakralisasi kekuasaan.
Memastikan kedaulatan Tuhan dapat memungkinkan pemastian kedaulatan rakyat. Nurani yang bukan apolitis Memastikan kedaulatan Tuhan memungkinkan pemastian kedaulatan rakyat karena dua alasan. Pertama, menghormati kedaulatan Tuhan berarti menghargai dan menghormati apa yang diciptakan-Nya. Kedaulatan Tuhan dilecehkan saat alam dan manusia dinodai, dieksploitasi tanpa batas, diperlakukan tidak adil, dan dibiarkan dalam kemelaratan.
Kedaulatan Tuhan terungkap dalam kedaulatan manusia, kemuliaan Tuhan menyata dalam kesejahteraan manusia. Maka, agama wajib menyuarakan penghormatan terhadap manusia, khususnya yang termarginalisasi, agar terakomodasi dalam demokrasi. Selain itu, lanjut Gerung, Tuhan adalah urusan nurani tiap-tiap warga. Namun, itu tidak berarti iman akan Tuhan bersifat apolitis. Justru saat menduduki nurani warga, dia menjadi elemen penting demokrasi. Mati hidupnya demokrasi tergantung warga yang demokratis.
Sementara itu, tugas agama adalah memastikan kedaulatan Tuhan, termasuk membiarkan politik sebagai ruang untuk memastikan kedaulatan rakyat. Namun, agama-agama justru sering gagal melaksanakan tugas ini saat mereka menempatkan diri pada posisi Tuhan. Yang berdaulat adalah Tuhan, yang tidak menemukan identifikasi-Nya yang total dengan apa pun di dunia, juga tidak dengan agama.
Ringkasan lain tentang Memastikan Kedaulatan Tuhan