Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Habiburrahman El Shirazy: Karya Sastra Itu Sesuatu yang Dahsyat

.

Habiburrahman El Shirazy: Karya Sastra Itu Sesuatu yang Dahsyat

Summary rating: 3 stars 7 Tinjauan
Summary by : JakaTarub
Kunjungan: 276
kata: 600
Diterbitkan di: Maret 09, 2008
Novelis Habiburrahman El Shirazy  adalah fenomena. Kang
Abik--demikian ia biasa disapa—menulis novel “pembangun jiwa”: Bercinta
untuk Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra,
Ayat-Ayat Cinta. Yang disebut terakhir terjual lebih dari 120 ribu dan
kini film yag didasarkan novel itu sedang beredar di gedung bioskop.
 
Habiburrahman, lahir 30 September 1976, adalah lulusan Universitas
Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan
pesantren. Ia sendiri lulusan pesantren di Mranggen, Demak, Jawa
Tengah.  
Berkenalan dengan sastra sejak di pesantren, dengan mempelajari
syi'ir-syi'ir Arab dan balaghoh (sastra Arab). “Itu mulanya (saya)
berkenalan dengan sastra. Kemudian lebih intens ketika saya belajar di
madrasah program khusus di Surakarta. Di sana saya mendirikan teater;
saya sebagai penulis skenario, juga sebagai sutradaranya,” ujarnya.
 
Sepulang dari Mesir, awalnya ia menulis cerpen, kemudian membuat
kisah-kisah Islami dalam satu buku. Sebuah kecelakaan pada 2003 menjadi
titik balik hidupya. Kaki kanannya patah, sehingga ia tidak bisa
mengajar di Yogyakarta—yang hanya bergaji Rp 100 ribu—dan tidak bisa
pula mementaskan teater. Lalu ia menumpahkan waktunya untuk menulis
novel. “Saat itulah kemudian saya menulis Ayat-Ayat Cinta dalam kondisi
yang memang saya tidak bisa ke mana-mana. Siang malam saya nulis novel
Ayat-Ayat Cinta,” katanya. Adapun inspirasi Ayat-Ayat Cinta, kata Kang
Abik, berasal dari ayat Al-Quran Surat Al-Zuhruf Ayat 67. Yang artinya:
Orang-orang yang suka saling mencintai satu sama lain pada hari kiamat
akan bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa. ”Jatuh cinta dan
saling mencintai tetap akan bermusuhan juga pada hari kiamat kecuali
orang yang bertakwa. Jadi, hanya cinta yang bertakwa yang tidak akan
menyebabkan orang bermusuhan. Itu yang kemudian sempat menjadi renungan
saya. Saya pingin juga menulis novel tentang cinta tapi yang sesuai
dengan ajaran Islam; yang itu menurut saya benar,” katanya.
   
Ia mengakui bahwa karya-karyanya memadukan antara sastra dan pesantren.
”Kita akan enak menulis apa yang kita tahu. Saat ini memang
seting-seting (karya) saya pesantren. Karena itu yang lebih saya
kuasai. Bisa saya jiwai,” ujarnya.  
Lalu, apa kiat suksesnya dalam menulis karya sastra? Pertama, harus
punya niat yang kuat. Kedua, berani menulis. ”Banyak orang yang punya
niat tapi tidak berani menulis,” ujarnya. Kiat lainnya adalah menulis,
menulis, dan menulis.  
Selain menulis, Habiburrahman mengajar ngaji di kampung di Salatiga,
mengisi pengajian rutin, seminar dan bedah buku, mengelola Pesantren
Basmala. Pria yang pernah menjadi Pengurus Forum Lingkar Pena ini telah
meraih Pena Award 2005,
Islamic Book Fair (IBF) Award 2006, dan The Move Favourite Book 2005.
 
(Tulisan ini merupakan ringkasan berdasarkan/bersumber pada wawancara
wartawan TEMPO Rofiuddin dengan Habiburrahman di rubrik Tamu, Koran
TEMPO edisi Minggu 21 Oktober 2007.) 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.